Oleh:  Qurratul Aini

Dua tahun silam diingatkan lembaga survey global Edelman ternyata benar. Hasil terbaru Edelman Trust Barometer 2015, mengkonfirmasi: Kini sedang terjadi krisis kepemimpinan. Edelman Trust Barometer 2015 menemukan bahwa lebih dari setengah informasi global percaya bahwa laju perkembangan dan perubahan bisnis saat ini terlalu cepat, bahwa inovasi bisnis didorong oleh keserakahan dan uang daripada keinginan untuk memperbaiki kehidupan masyarakat dan bahwa ada tidak cukup regulasi pemerintah terhadap banyak sektor industri.

Sedangkan menurut hasil Edelman Trust Barometer 2016, satu dari tiga karyawan tidak mempercayai pemimpin organisasi kita. Studi Edelman tentang kepercayaan di tempat kerja mensurvei 33.000 orang dari 28 negara di seluruh dunia. Infografis di bawah ini memberikan beberapa sorotan survei.

Survey Edelman terbaru itu menyimpulkan, kepemimpinan baru di era digital, kebanyakan gagap dan gagal ‘menghubungkan’ antara aspek kontrol otoritas dan kemampuan berdialog dengan komunitas. Kebanyakan masih berkutat dengan pola kepemimpinan otoritatif yang hierarkis, bahkan cenderung mengabaikan pendapat yang berbeda. Gagal menyadari, betapa memiliki pengaruh kekuasaan yang powerful, tapi tetap bisa merangkul, melibatkan dan mendapat dukungan dari konstituen dan publik luas, adalah faktor krusial. “…we need both, influence and authority,” begitu yang tertera di executive summary laporan tahunan tersebut. Baru sekarang disadari bahwa ternyata krisis kepemimpinan itu memang sedang terjadi, yang jika diabaikan akan semakin menjadi-jadi. Yang kini sedang terjadi, diistilahkan Leadership-Trust Gap.

Pemimpin yang cerdas secara emosional tahu bahwa menciptakan budaya tempat kerja dan iklim di mana emosi dilibatkan dalam bentuk apresiasi verbal dan nonverbal. Agar orang-orang dapat terlibat penuh, mereka perlu merasa bahwa mereka mengikuti seorang pemimpin yang kredibel yang mengilhami mereka secara emosional.

Seseorang yang memiliki kecerdasan emosi biasanya memiliki dua unsur penting dalam dirinya antara lain :

  • Kemampuan untuk berempatiyang dimana memiliki kemampuan untuk membaca dan merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, sebagai contohnya adalah kepandaian kita dalam melayani pelanggan.
  • Kemampuan untuk melakukan interaksi sosialdengan orang lain dimana seorang individu mampu mengelola perasaan orang lain dengan baik.

Kecerdasan emosional bagi seorang pemimpin itu begitu penting, karena akan membawa manfaat bagi diri sendiri dan memengaruhi orang-orang yang dibawah pimpinannya. Tak mengherankan bahwa kecerdasan emosi menjadi salah satu utama dalam proses seleksi untuk mendapatkan seorang pemimpin, karena kecerdasan emosilah yang menjadi pilar penentu apakah orang tersebut akan sukses kedepannya jika dibandingkan dengan skill leadership lainnya.

Kecerdasan emosi sangat dibutuhkan untuk para pemimpin di era ini, yang dapat menghadapi permasalahan kompleks yang membutuhkan kemampuan inovatif, tidak hanya sekedar tahu penyelesaiannya, namun mau untuk membangun visi kedepannya yang lebih jauh.

Adapun sumber yang menyatakan bahwa faktor-faktor kecerdasan emosional dibagi menjadi lima yaitu :

  1. Emphatic respon; kemampuan untuk menyadari perasaan emosi dari orang lain
  2. Mood regulation; kemampuan untuk mengontrol perasaan yang mengganggu
  3. Interpersonal skill; kemampuan dalam mengatur hubungan dan membangun network
  4. Intrinsic motivation; motivasi yang timbul dari dalam diri seseorang yang mana mereka tidak membutuhkan reward dalam mengerjakan sesuatu karena pekerjaan itu sudah menjadi reward baginya.
  5. Self-awereness; kemampuan seseorang untuk mengerti mood, emosi dan dorongan serta efek dari semua itu.

Penerapan kecerdasan emosional seseorang dilakukan melalui pengelolaan bahasatubuh antara lain: kapan kita tertawa, tersenyum, cemberut, bahagia, gembira, sedih, marah, kesal, bingung, putus asa, gundah, gelisah dan lain-lain.

Berkaitan dengan leadership, tak lepas dari tokoh dunia yang terkenal dengan gaya kepemimpinannya, yaitu Sang Proklamator negara kita, Ir. Soekarno. Beliau adalah pemimpin yang kharismatik, memiliki semangat pantang menyerah dan rela berkorban demi persatuan dan kesatuan serta kemerdekaan bangsanya.

Selain itu beliau juga memiliki kecerdasan emosi yang luar biasa. Beliau dapat menerapkan kecerdasan emosi tersebut untuk melawan para penjajah-penjajah dan memanfaatkan vacum of power untuk saat paling berharga, yaitu memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Referensi :

Disarikan dan dikembangkan dari :

  1. Working with Emotional Intelligence, “Kecerdasan Emosi untuk Mencapai Puncak Prestasi”, Daniel Goleman,  Alih Bahasa Alex Tri Koentjoro Widodo,  PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2003;
  2. Mind Power,  “Sukses Dalam Bisnis Dengan Memberdayakan Mental Imaging”, Picture Your Way to Success in Business, Gini Graham Scott, Ph.D, Alih Bahasa  Bern Hidayat, PT Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta, 1998;