Penulis: dr. Merita Arini

Adaptasi instrumen penelitian lebih dari sekedar alih bahasa, namun terdapat aspek cross cultural adaptation yang penting dilakukan agar instrumen penelitian yang akan digunakan dapat mengukur apa yang seharusnya diukur (valid) dan reliabel (konsisten dalam pengukuran). Terdapat aspek ekspresi, budaya, serta berbagai hal lain yang menyebabkan instrumen perlu dilakukan adaptasi secara komprehensif.
Dalam berbagai jurnal penelitian, telah banyak dipublikasikan berbagai macam langkah adaptasi cross-cultural suatu instrumen penelitian. Adaptasi tersebut bertujuan untuk mencapai ekuivalensi antara instrumen asli dengan instrumen baru hasil adaptasi. Kesetaraan yang dimaksud meliputi ekuivalensi dalam hal translasi bahasa, konsep, dan metrik. Ekuivalensi translasi meliputi kemiripan mana semirip mungkin dengan bahasa yang asli, menyangkut ekspresi bahasa dan budaya berbahasa dari komunitas lokal yang akan diukur. Ekuivalensi konsep perlu diperhatikan mengingat tidak semua bahasa asing memiliki padanan kata dalam bahasa yang dituju dan tidak semua istilah dapat digunakan dengan vulgar pada budaya lokal yang dituju. Ekuivalensi metrik perlu diperhatikan terkait skala pengukuran yang digunakan dalam budaya setempat.
Beragam upaya transalasi dan adaptasi yang dipublikasikan umumnya melakukan beberapa langkah translasi bahasa, melibatkan panel ahli, serta proses uji coba. Di antara metode adaptasi instrumen adalah yang dilakukan WHO (World Health Organization) yang telah diperbaiki dalam beberapa studi yang dilakukan. Artikel kali ini, membahas tentang langkah-langkah adaptasi instrumen yang dianjurkan WHO dan termuat dalam pedoman Pengelolaan Penyalahgunaan Zat dan tentunya langkah ini dapat diterapkan pada instrumen-instrumen penelitian lainnya. Langkah-langkah adaptasi instrumen tersebut meliputi (1) forward translation; (2) expert panel; (3) back translation; (4) pre-testing and cognitive interviewing; (5) final version.
(1) forward translation;
Dalam proses ini, WHO merekomendasikan seorang penerjemah, diutamakan profesi kesehatan sehingga diasumsikan lebih familiar dengan istilah yang akan digali melalui instrumen dan memiliki kemampuan melakukan wawancara. Penerjemah sebaiknya memahami english speaking-culture namun diharapkan memiliki bahasa ibu utama sesuai dengan target budaya yang dituju. Pada proses translasi, instruksi perlu ditekankan agar lebih menekankan pada konsep dibanding translasi literal semata, serta memenuhi kebutuhan penggunaan bahasa yang natural dan dapat diterima untuk sebanyak-banyaknya peserta. Proses ini perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut.
a. penerjemah selalu bertujuan pada ekuivalensi kata maupun frase, tidak hanya translasi kata perkata. Ia harus mempertimbangkan definisi dalam terminologi asal dan mengupayakan penerjemahan dengan cara yang paling relevan.
b. Penerjemah perlu mengupayakan agar terjemahannya sederhana, jelas, dan ringkas dalam memformulasikan pertanyaan. Lebih sedikit kata-kata lebih baik. Kalimat-kalimat yang panjang dengan beberpa klausa sebaiknya dihindari.
c. Bahasa target yang digunakan merupakan tujuan untuk peserta terbanyak. Penerjemah perlu menghindari menggunakan bahasa/ istilah profesi tertentu seperti dokter atau kelompok profesi lainnya. Penerjemah perlu mempertimbangkan karakteristik responden yang mana instrumen ditranslasikan dan apakah yang akan dipahami responden pada saat membaca/ mendengar pertanyaan.
d. Penerjemah perlu menghindari penggunaan jargon, seperti istilah-istilah teknis, bahasa daerah, idiom, dan lain sebagainya yang mungkin tidak dapat dipahami oleh kebanyakan responden
e. Penerjemah perlu memperhatikan isu-isu gender atau kemampuan terkait usia dan menghindari istilah-istilah yang mungkin diasumsikan menyerang populasi target.
(2) expert panel;
Sebuah panel ahli bilingual (dalam bahasa Inggris dan bahasa target) sebaiknya diselenggarakan dengan seorang editor in-chief. Tujuan tahap ini adalah untuk mengidentifikasi dan mengatasi masalah translasi yang dirasa tidak mencukupi seperti ekspresi/ konsep, perbedaan antara forward translation dan versi pertanyaan-pertanyaan yang ada dan dapat dibandingkan. Panel ahli mungkin mempertanyakan beberapa kata atau ekspresi dan memberikan masukan alternatif. Peneliti utama dan atau project colloborator bertanggungjawab menyediakan bahan-bahan yang yang dapat membantu pakar dalam pembahasan agar konsisten dengan terjemahan sebelumnya. Jumlah pakar yang terlibat dapat bervariasi, umumnya melibatkan penerjemah asli ahli dalam bidan kesehatan yang dimaksud, serta ahli yang berpengalaman dalam pembuatan dan penerjemahan instrumen.
(3) back translation;
Dengan menggunakan pendekatan yang sama pada tahap pertama, instrumen kemudian diterjemahkan kembali ke dalam Bahasa Inggris dengan seorang penerjemah independen yang memiliki bahasa ibu bahasa Inggris dan tidak memiliki pengetahuan sama sekali tentang kuesioner yang akan diterjemahkan. Back-translation dilakukan terhadap beberapa item pilihan yang diidentifikasi dengan dua cara. Cara pertama, beberapa item dipilih oleh WHO berdasarkan isitilah/ konsep-konsep yang merupakan kunci instrumen atau dianggap sensitif dalam masalah penerjemahan lintas budaya. Beberapa item akan didistribusikan ketika instrumen dalam versi Bahasa Inggris didistribusikan. Kedua, berisi beberapa item yang ditambahkan oleh negara peserta/ bahasa target yang mengidentifikasi adanya kata-kata atau frase-frase yang bermasalah. Tamabahan ini sebaiknya dikirimlan kepada WHO untuk direview dan di-approve.
Sebagaimana pada penerjemahan awal, penekanan back-translation adalah pada ekuivalensi konsep dan kultural, serta bukan sekedar kesetraan bahasa. Perbedaan yang ada perlu didiskusikan dengan editor-in-chief dan pekerjaan selanjutnya (forward translation, expert panel¸dan seterusnya) mungkin perlu dilakukan beberapa kali sesuai kebutuhan hingga didapatkan versi yang memuaskan. Sebagian masalah kata atau frase tidak dapat sepenuhnya menggambarkan konsep yang diinginkan perlu mendapatkan perhatian khusus dari WHO.

(4) pre-testing and cognitive interviewing;
Sebelum instrumen benar-benar digunakan, instrumen ini perlu diuji cobakan kepada populasi target. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan adaptasi instrumen adalah sebagai berikut.
a. Responden uji coba merupakan perwakilan dari populasi target yang akan diminta mengisi kuesioner. Misalnya, jika instrumen ini akan digunakan oleh pengguna narkoba maka disarankan menggunakan pengguna yang dapat diambilkan dari kelompok lain di luar responden studi utama mapun lebih disukai jika menggunakan pengguna yang tidak eligible pada studi utama
b. Setiap seksi minimum melibatkan 10 orang responden. Jumlah ini akan berbeda pada penulis lain yang membahas tentang cara adaptasi instrumen. Mereka harus menggambarkan semua kelompok yang akan diteliti, misal umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan lain sebagainya.
c. Responden uji coba sebaiknya diberikan isntrumen dan diberi diberi pertanyaan (debriefing) secara sistematik. Dalam debriefing perlu ditanyakan tentang apa yang dipahami responden terhadap pertanyaan yang muncul dalam kuesioner, bagaimana mengulang pertanyaan dengan bahasa mereka sendiri, apa yang mereka pikirkan jika mendengar suatu istilah atau frase tertentu. Perlu juga ditanyakan tentang bagaimana cara mereka menjawab atau memilih jawaban. Pertanyaan tersebut perlu diulang pada setiap item.
d. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas perlu dibandingkan dengan jawaban aktual para responden untuk melihat konsistensi isntrumen.
e. Responden perlu ditanaya pula tentang kata-kata apa yang tidak mereka pahami, termasuk juga bila ada kata atau ekspresi yang tidak dapat diterima dan terkesan menyerang suatu pihak.
f. Terakhir, ketika terdapatalternatif kata-kata atau ekspresi untuk suatu item ekspresi, responden tersebut perlu ditanya untuk memilih kata atau ekspresi mana yang lebih nyaman dan lebih baik digunakan sesuai dengan bahasa yang biasa mereka pergunakan.
g. Informasi tersebut akan dapat dengan lebih mudah diperoleh melalui indepth interview meskipun FGD/ diskusi kelompok terarah mungkin dapat menjadi alternatif.
h. Merupakan hal yang sangat penting jika wawancara ini dilakukan oleh seorang pewawancara terlatih.

(5) final version
Versi akhir isntrumen dalam bahasa target sebaiknya diperoleh dari proses iteratif (bolak-balik atau berulang kali) yang dilakukan. Sehingga, peneliti mungkin membutuhkan proses translasi, panel ahli, dan uji coba lebih dari 1 kali. Versi ini perlu dituliskan, misal no versi 5 agar diketahui bahwa proses tersebut sudah melalui 5 kali tahapan perubahan.

Dokumen tertulis tentang kegiatan-kegiatan ini termasuk informasi tertentu mengenai peran serta individu-individu harus dilakukan. Oleh karena itu, proses adaptasi yang baik dianjurkan memiliki dokumentasi yang minimal terdiri dari versi terjemahan awal, rangkuman rekomendasi dari panel ahli, back translation, rangkuman masalah-masalah yang ditemukan selama uji coba instrumen dan modifikasi yang diusulkan, serta versi final.

Referensi:
WHO. Process of translation and adaptation of instrumens. Diakses dari www.who.int/substance_abuse/resarch_tools?translation?en/ pada 17 Januari 2019.