Pada tahun 2010 lisensi software INA DRGs telah habis dan beralih grouper ke INA CBGs dengan menggunakan grouper dari United Nation University (UNU-Casemix Grouper). Dasar pengelompokan menggunakan ICD-10 untuk diagnosa dan ICD-9 CM untuk prosedur/ tindakan (1). Penerapan cara pembayaran paket berbasis paket casemix dengan sistem Indonesia Cased Based Group (INA CBGs) menuntut pemberi pelayanan kesehatan untuk menggunakan sumber daya termasuk obat secara efisien dan rasional (efektif). Paket INA CBGs di sini sudah termasuk dalam pemberian obat, baik rawat jalan maupun rawat inap. Oleh karena cara pembayaran klaim kepada rumah sakit berdasar paket INA CBGs, maka rumah sakit sebagai pelayan pasien Jamkesmas perlu mengadakan efisiensi di dalam pengelolaan pelayanan tersebut. Untuk mencapai kepuasan pasien yang baik dan efisiensi dalam hal biaya maka diperlukan adanya prosedur tetap yang telah dibuat oleh rumah sakit dalam bentuk clinical pathway (2).

chalenge & fun of developing CP sumber gambar: rmomd.com

chalenge & fun of developing CP
sumber gambar: rmomd.com

Clinical pathway adalah konsep perencanaan pelayanan terpadu yang merangkum setiap langkah yang diberikan kepada pasien berdasarkan standar pelayanan, standar asuhan keperawatan, dan standar pelayanan tenaga kesehatan lainnya, yang berbasis bukti dengan hasil yang dapat diukur dan dalam jangka waktu tertentu selama di rumah sakit clinical pathway merupakan rencana multidisiplin yang memerlukan praktik kolaborasi dengan pendekatan tim, melalui kegiatan day to day, berfokus pada pasien dengan kegiatan yang sistematik memasukkan standar outcome (2)

Istilah clinical pathway sendiri ada berbagai macam, ada yang menyebut critical pathway, integrated care pathway, dan care map. (3). Tujuan pelaksanaan clinical pathway adalah menyediakan pelayanan terbaik ketika gaya praktik harus dibedakan secara signifikan dan menyediakan kerangka kerja untuk mengumpulkan dan menganalisis data proses perawatan sehingga provider mengerti seberapa sering dan mengapa pasien tidak mengikuti program yang diinginkan selama masa hospitalisasi (4). Selama ini rumah sakit jarang menggunakan clinical pathway. Hal ini dikarenakan sulitnya membuat clinical pathway yang melibatkan bermacam tenaga kesehatan, termasuk dokter dan perawat. Dengan heterogen-nya ilmu kedokteran maka para dokter terutama dokter spesialis mempunyai “seni” tersendiri yang tidak mudah untuk disatukan.

Manfaat Clinical Pathway

Manfaat Clinical Pathway

Keuntungan clinical pathway adalah dapat menurunkan angka komplikasi yang diderita pasien, clinical pathway dapat mencegah komplikasi kepada pasien yang mendapat terapi bedah, yakni mencegah 1 pasien yang terkena kompikasi dari 17 pasien yang mendapat terapi bedah pada pelayanan yang biasa digunakan oleh dokter (5). Selain keuntungan itu, apakah clinical pathway berakibat pada menurunkan biaya rumah sakit? Menurut penelitian, tidak semua clinical pathway menurunkan biaya rumah sakit, namun dengan clinical pathway dapat mencegah terjadinya komplikasi pada pasien tanpa meningkatkan biaya yang dikeluarkan (6).

Clinical pathway jika masih belum banyak diterapkan di rumah sakit dapat menyebabkan terganggunya pelayanan rumah sakit. Karena di era JKN yang semua klaim pasien didasarkan pada casemix membutuhkan suatu pedoman pasti dalam pelayanannya, bukan semata-mata untuk menurunkan biaya, namun juga untuk kepuasan pasien dalam mencegah komplikasi penyakitnya. (WP)

 

Referensi :

(1)   Departemen Kesehatan, 2011, Surat Edaran Direktur Jenderal Bina Pelayanan Medik Nomor IR.03.01/1/570710 tentang Surat Edaran Lisesni Grouper INA CBG’s, Departemen Kesehatan RI, Jakarta.

(2)   Adisasmito, W,2008, Kebijakan Standar Pelayanan Medik dan Diagnosis Related Group (DRG), Kelayakan Penerapannya di Indonesia. 2008: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Jakarta.

(3)   Vanhaecht K, D. R, 2006, Clinical Pathway Audit Tools: a systematic review. J Nurs Manag , 14 (7), 529-537. Disaddur dari Nursing Journal dengan alamat http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/1700496

(4)   Cheah, J, (2000), Clinical Pathways- An Evaluation of its Impact on the Quality of Care in an Acute Care General Hospital in Singapore. Disadur dari Singapore Medical Journal dengan alamat http://www.sma.org.sgwww.sma.org.sg/smj/4107/articles/4107a5.pdf

(5)   Rotter et al, Clinical pathways: effects on professional practice, patient

outcomes, length of stay and hospital costs (Review). Disadur dari the cocheane library dengan alamat http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20238347

(6)   Panella et al, 2003, Clinical pathways: effects on professional practice, patient outcomes, length of stay and hospital costs. International Journal for Quality in Health Care 2003; Volume 15, Number 6: pp. 509–521, Disadur dari : http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/14660534