Perkiraan pasti dampak ekonomi dari infeksi resistensi antibiotik masih merupakan tantangan global yang sangat besar. Resistensi antibiotik merupakan salah satu penyumbang beban ekonomi yang cukup besar dari sektor kesehatan di seluruh dunia. Di Amerika Serikat saja, sebanyak 99.000 kematian setiap tahun disebabkan oleh infeksi HAIs (Hospital Acquired Infections) yang pada umumnya adalah infeksi bakteri resistensi antibiotik. Pada tahun 2006, infeksi HAIs terbesar di Amerika disebabkan oleh pneumonia dan sepsis yang menyebabkan sekitar 50.000 orang Amerika meninggal, dan menghabiskan biaya sekitar $8 miliar.

Pasien dengan infeksi bakteri resisten antibiotik harus tinggal di rumah sakit setidaknya selama 13 hari dan membutuhkan biaya sekitar $29.000 per pasien, hal ini menyebabkan rumah sakit harus mengeluarkan biaya tambahan sebesar 8 juta per hari setiap tahunnya. Secara total, kerugian ekonomi sekitar $20 miliar telah dicatat di AS, sementara kerugian sekitar $35 miliar per tahun juga telah dicatat dalam hal produktivitas yang hilang karena resistensi antibiotik dalam sistem perawatan kesehatan.

Perkiraan terburuk yang mungkin berkembang di masa depan di mana dunia mungkin dibiarkan tanpa agen antimikroba yang ampuh untuk mengobati infeksi bakteri. Diprediksikan pada tahun 2050, sekitar 444 juta orang akan menderita infeksi dan angka kelahiran akan menurun dengan cepat. Karena keterbatasan data seperti inklusi dari keseluruhan kondisi dan penyakit yang rentan terhadap resistensi, angka-angka ini menunjukkan data yang tidak lengkap dari pembiayaan terhadap kasus resistensi antibiotik. Malpraktik penggunaan antimikroba sebagai promotor pertumbuhan juga ditemukan di banyak negara berkembang. Sifat lain yang sangat signifikan dari AMR (antimicrobial resistance) yang tidak ada dalam penyelidikan adalah penggunaan antibiotik dalam industri peternakan dan makanan. Diduga merupakan salah satu penyebab peningkatan AMR dan kemungkinan membawa kerugian ekonomi.

Perkiraan biaya terkait resistansi antibiotik saat ini sangat terbatas cakupannya dan tidak mempertimbangkan nilai-nilai sosial yang lebih luas dari antibiotik. Ini adalah faktor-faktor predisposisi yang mengarahkan ketidaktepatan dalam perkiraan beban ekonomi aktual yang dihadapi dunia karena masalah ini. Untuk mendapatkan perkiraan yang tepat dari konsekuensi ekonomi yang ditimbulkan, studi prospektif harus menggunakan metode makroekonomi, yang mempertimbangkan semua efek dari resistensi antibiotik yang meningkat terutama pengurangan efektivitas berbagai antibiotik dalam pengobatan modern. Sampai kita belum dapat mengatasi masalah ini, perkiraan pasti beban ekonomi global resistensi antibiotik mungkin tidak sepenuhnya dapat dihitung.

Bagaimana dengan negara kita, Indonesia?