Manfaat Akreditasi Puskesmas

21/06/2017 by : mmr

Peningkatan mutu pelayanan kesehatan adalah upaya nyata yang harus ditempuh khususnya di negara berkembang seperti Indonesia. Tidak terkecuali pelayanan kesehatan primer yang merupakan gate keeper  pelayanan kesehatan di Indonesia harus menjamin pelayanan kesehatan yang berkualitas. Kualitas pelayanan kesehatan tersebut dapat dipandang sebagai suatu kepaduan yang takterpisahkan sejak aspek input, proses, dan output sebagaimana dikemukakan dalam teori mutu menurut Donabedian.

Berbagai upaya penjaminan mutu dapat dilakukan oleh fasilitas kesehatan baik secara internal maupun eksternal. Upaya penjaminan mutu internal misalnya audit internal, supervisi, self assessment, kredensialing, dan lain sebagainya. Adapun upaya penjaminan mutu eksternal di antaranya ada akreditasi, lisensi, sertifikasi, dan lain sebagainya.

Berdasarkan laporan Profil Kesehatan Indonesia 2015 (Depkes RI, 2016) Indonesia memiliki 9.754 unit Puskesmas di seluruh Indonesia. Sebanyak  3.396 unit merupakan Puskesmas rawat inap dan 6.358 unit Puskesmas non rawat inap. Namun demikian, dari sekian banyak puskesmas  di Indonesia  baru  93 kecamatan (26,57%) dari 350 kecamatan yang memiliki minimal 1 Puskesmas yang tersertifikasi akreditasi pada tahun 2015. Dari 93 kecamatan tersebut jumlah Puskesmas yang sudah terakreditasi sebanyak 100 Puskesmas tersertifikasi akreditasi (sumber data dari laporan Komisi Akreditasi per 31 Desember 2015). Apabila capaian tersebut dibandingkan dengan target akhir tahun Rencana Strategis (5.600 kecamatan), maka masih diperlukan upaya percepatan pencapaian indikator tersebut.

Jumlah puskesmas dan FKTP (fasilitas kesehatan tingkat pertama) yang terakreditasi terus menerus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Sebagaimana akreditasi RS, di Indonesia belum ada penelitian yang mengevaluasi dampak dan manfaat akreditasi terhadap kualitas pelayanan kesehatan di tingkat primer. Banyak penelitian di luar negeri menunjukkan manfaat dan tantangan yang dihadapi FKTP dalam implementasi akreditasi. Namun, belum ada penelitian yang dapat memberikan bukti yang cukup atas manfaat akreditasi terhadap outcome pasien maupun keselamatan pasien dalam perspektif kualitas. Beberapa penelitian baru dapat menunjukkan manfaat akreditasi terhadap peningkatan kinerja organisasi dan kepuasan kerja karyawan karyawan (Diab, 2016).

Sepanjang penelusuran penulis, belum terdapat data yang cukup kuat untuk membuktikan bahwa dengan akreditasi terdapat peningkatan budaya patient safety FKTP.  Penelitian oleh EL Jardali (2014) juga baru mengkaji persepsi staf dan manajer terhadap persepsi kualitas fasilitas kesehatan. Dalam penelitian tersebut didapatkan hasil bahwa perencanaan kualitas strategis, kepuasan pelanggan, dan keterlibatan staf berhubungan dengan hasil kualitass yang lebih tinggi. Para direktur dalam penelitian menekankan manfaat akreditasi terjadi pada asspek dokumentassi, upaya pemenuhan standar kulaitas, penguatan hubungan fasilitass kesehatan primer dengan multiple stakeholder, serta peninngkatan kepuasan pelangggan, dan staf. Dalam penelitian tersebut, tantangan dalam implementasi standar akreditasi dijelaskan meliputi keterbatasan keuangan, infrastruktur yang buruk, dan kekurangan staf.

Dalam penelitian lain oleh Ghareeb (2015) terhadap impact penerapan akreditasi di fasilitas kesehatan primer di Qatar terhadap perubahan dan learning organization. Terdapat temuan impact  akreditasi fasilitas kesehatan primer yang signifikan terhadap persepsi kualitas. Demikian pula didapatkan hasil bahwa budaya organisasi berhubungan posituf dengan kelompok budaya dan akreditasi. Hal ini berarti akreditasi dapat mendorong perubahan budaya dari organisasi pembelajar.

Dari beberapa penelitian tersebut, perlu ditindaklanjuti mengenai dampak akreditasi terhadap outcome pasien dan keselamatan pasien. Akreditasi yang terus berjalan perlu mendapat masukan mengenai proses dan manfaatnya.

 

Referensi:

Diab, SM, 2015, ‘The Effect of Primary Health Accreditation Standards on the Primary Health Care Quality and Employees Satisfaction in the Jordanian Health Care Centers,’ The International Journal of Academic Research in Business and Social Sciences April 2015, Vol. 5, No. 4.

Depkes RI, 2006, Laporan Akuntabilitas Kinerja Ditjen Bina Upaya Kesehatan Tahun 2015, Diakses dari http://www.depkes.go.id/resources/download/LAKIP%20ROREN/3%20laporan%20kiner-ja/BUK/LAKIP%20Ditjen%20BUK%202015.pdf

Depkes RI, 2016, PROFIL KESEHATAN INDONESIA TAHUN 2015, Diakses dari http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/profil-kesehatan-indonesia/profil-kesehatan-Indonesia-2015.pdf

Ghareeb A, 2015,  Examining the Impact of Accreditation on a Primary Healthcare Organization in Qatar. Diaskes dari http://scholarworks.waldenu.edu/cgi/viewcontent.cgi?arti-cle=3100&context=dissertations.