Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) (2010), berdasarkan kondisi geografis, geologis, hidrologis dan demografis, Indonesia memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap terjadinya bencana, baik yang disebabkan oleh faktor alam, faktor non-alam maupun faktor manusia. Dampak utama bencana seringkali menimbulkan korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak kerusakan non-materi maupun psikologis (1). Kerusakan yang diakibatkan bencana merupakan pemicu tidak berfungsinya layanan kesehatan (Functional Collapse) dan fasilitasnya (Structural Collapse) (2). Maka, rumah sakit yang dibangun tanpa mempertimbangkan risiko bencana dan mengabaikan aspek pemeliharaan dapat memperburuk layanan kesehatan dan fasilitasnya seiring waktu.

Iowa Hospital yang terkena dampak banjir

Iowa Hospital yang terkena dampak banjir

Tingkat kerentanan fasilitas kesehatan dapat dikurangi dengan cara peningkatan kapasitasnya yang salah satunya adalah konsep safe hospital. Safe hospital adalah fasilitas kesehatan yang dapat tetap ter-akses dan berfungsi pada kapasitas maksimum, dan dalam infrastruktur yang sama, selama dan segera setelah terkena hazard (2). Safe hospital bertujuan untuk melindungi hidup pasien, pengunjung dan staf, melindungi inventarisasi berupa perlengkapan dan alat kesehatan dan melindungi performa fasilitas kesehatan. Maksud strategi rumah sakit yang selamat dari bencana ini adalah untuk memastikan bahwa rumah sakit tidak hanya akan tetap berdiri bila ada bencana, tapi juga akan berfungsi secara efektif tanpa gangguan apapun.

Rumah Sakit memiliki peranan kunci dalam menanggulangi kegawatdaruratan dan bencana. Selama keadaan darurat atau bencana, rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya harus tetap selamat, dapat diakses dan berfungsi pada kapasitas maksimum untuk membantu menyelamatkan nyawa. Mereka harus terus memberikan layanan penting seperti medis dan perawatan, laboratorium serta pelayanan kesehatan lainnya. Sebuah rumah sakit yang selamat harus tetap terorganisasi dengan disaster plan dan tenaga kesehatan terlatih guna menjaga jaringan operasional (3).

Kesiapsiagaan rumah sakit menghadapi bencana massal

Kesiapsiagaan rumah sakit menghadapi bencana massal

Di dalam proses disaster management yang direpresentasikan sebagai model siklus, peningkatan kesiapsiagaan merupakan bagian dari proses pengelolaan risiko bencana. Dalam peningkatan kesiapsiagaan, proses mitigasi masuk dalam proses tersebut. Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana (4). Mitigasi bertujuan untuk meminimalkan efek bencana. Tindakan-tindakan yang dilakukan dalam mitigasi ini antara lain pembuatan zona rawan bencana, manajemen penggunaan lahan, analisis kerentanan dan edukasi masyarakat (5).

Dalam rangka peningkatan kesiapsiagaan rumah sakit menghadapi bencana/ hazard terdapat sebuah assessment yang dapat digunakan yaitu Hospital Safety Index. Hospital Safety Index yang dibuat oleh Pan American Health Organization tahun 2008 ini digunakan untuk mengukur tingkat keselamatan rumah sakit dalam menghadapi bencana. Formulir ini berfungsi untuk menilai kemungkinan suatu rumah sakit atau fasilitas kesehatan tetap beroperasi dalam situasi darurat. Indeks ini dikembangkan melalui proses dialog para ahli di Amerika Latin dan Kepulauan Karibia, pengujian dan revisi selama 2 tahun oleh Pan American Health Organization’s Disaster Mitigation Advisory Group (DIMAG).

Hospital Safety Index terdiri dari empat bagian yaitu tentang lokasi geografis fasilitas kesehatan, tentang elemen-elemen keamanan struktur bangunan, tentang elemen-elemen keamanan non-struktural dan tentang kapasitas fungsional rumah sakit. Untuk mendapatkan form tersebut, silahkan kunjungi www.paho.org. (WP)

 

Sumber :

  1. Badan Nasional Penanggulangan Bencana, 2010, Rencana Strategis Badan Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014, Jakarta.
  2. Pan American Health Organization, 2008, Hospital Safety Index: Guide for Evaluators, WashingtonD.C.
  3. World Health Organization, 2009,  Safe Hospitals in Emergencies and Disasters, World Health Organization Regional Office for the Western Pasific, Diakses dari http://www.wpro.who.int/NR/rdonlyres/390133EC-089F-4C77-902D-DFEE8532F558/0/SafeHospitalsinEmergenciesandDisasters160709.pdf
  4. Undang-undang Republik Indonesia No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.
  5. Warfield, Corona, 2011, The Disaster Managemen Cycle, Disaster Risk Mitigation and Management. Diakses dari   http://www.gdrc.org/uem/disasters/1-dm_cycle.html .

Sharing is caring!