Seperti pada tulisan saya sebelumnya tentang report kegiatan “Infection Control and Network Area Lecturer” pada 29 November 2017, yang diselenggarakan oleh Infection Prevention and Control Departement, Tokushima University Hospital, Tokushima, Tokushima Prefecture, Japan. Alhamdulillah akhirnya saya bisa menyelesaikan terjemahan materi yang ada yang disampaikan oleh Mr. Fujiwara Ryosuke dari Bahasa Jepang kedalam Bahasa Inggris. Materi yang disampaikan oleh Mr. Ryosuke ini menjelaskan bagaimana kondisi dan situasi penyakit TB di Jepang, serta pencegahan dan penatalaksanaanya. Rangkuman singkat materinya ada di bawah ini yaa… Mohon maaf karena keterbatasan Bahasa Jepang saya, terlebih kesukaran menterjemahkan huruf kanji, sehingga dengan keterbatasan waktu mengharuskan saya juga untuk bertanya kepada Infection Control Doctor di rumah sakit.

Seperti postingan saya sebelumnya bahwa di negara Jepang juga banyak ditemukan kasus TB dan MDR-TB (Multi-drug-resistant Tuberculosis) di kota-kota besar, seperti Osaka, Tokyo, Aichi, dan bahkan Tokushima sendiri merupakan peringkat kelima terbanyak kasus TB setelah kota Gifu. Dan kebanyakan pasien TB yang ada di Jepang berumur lebih dari 65 tahun. Kok bisa ya? Menurut mereka, banyak faktor penyebab terjadinya TB di negara Jepang, seperti status imunitas, life style, dan komplikasi dari penyakit seperti DM (diabetes mellitus), juga banyak ditemukan di Jepang

Rasa kepo saya tidak hanya mendengarkan materi yang disampaikan oleh Mr. Ryosuke hingga selesai. Pada sesi diskusi saya mendapatkan kesempatan untuk bertanya  dan berdiskusi dengan beliau dan teman-teman public health yang bekerja di Tokushima Health Center. Dalam upaya pencegahan terjadinya infeksi penularan TB, pemerintah membuat berbagai program dengan Japan Anti-Tuberculosis Association (JATA), seperti wajib vaksin BCG, check-up berkala, mengaktivkan public health center (HOKENJO) dan promosi kesehatan, kegiatan home-visite, surveillance, memberikan program berkala dan buku saku kepada pasien TB.

Disini, apabila diketahui sudah terdeteksi TB, maka pasien dan keluarga pasien akan di edukasi tentang penyakit TB, bagaimana proses penyembuhannya hingga bagaimana mencegah penularan infeksi TB sehingga tidak menular ke keluarga pasien maupun orang lain. Petugas kesehatan dari HOKENJO area tempat tinggal pasien secara berkala akan mendatangi pasien dan keluarga pasien. Pasien akan diberikan buku saku yang berisi informasi dan petunjuk tentang TB, jadwal minum obat, checklist kepatuhan minum obat hingga jadwal kontrol. Apabila pasien mengisi buku saku secara lengkap, dan obat TB yang diberikan habis, maka petugas kesehatan akan melakukan pemeriksaan ulang apakah benar pasien telah patuh minum obat secara rutin. Jika pasien ternyata membuang obat yang diberikan, maka hasil pemeriksaan akan menunjukkan hasilnya apakah pasien jujur atau berbohong.

Tidak hanya itu, dalam penanganan kasus TB, pembiayaan pengobatan sepenuhnya ditanggung oleh asuransi kesehatan, alias GRATIS. Yah wajar aja siy semua tercover oleh asuransi kesehatan nasional negara mereka, yang mana iuran perbulannya juga menurut kami warna negara Indonesia yang tinggal disini lumayan mahal, terutama bagi mereka yang statusnya bekerja. Tapi sebandinglah dengan apa yang kami keluarkan setiap bulannya dengan pelayanan kesehatan yang kami peroleh.

For more information about TB in Japan, dapat juga dibuka websitenya:

  1. Japan Anti-Tuberculosis Association: jatahq.org
  2. The research institute of Tuberculosis: jata.or.jp/index.php
  3. Tuberculosis telephone consultation service: jatah.org/headquarters/index9e.html
  4. Stop by dots!: jata.or.jp/rit/rj/TB2008/start.html

Semoga bermanfaat.

_dr. Maria Ulfa.,MMR-

Wassalam.

Tokushima, 20 Desember 2017.