Oleh: dr. Merita Arini, MMR

Reducing Harm Peri-Operatif sumber: www.patientsafety.nhs.uk

Reducing Harm Peri-Operatif
sumber: www.patientsafety.nhs.uk

Sebagaimana telah diketahui, Infeksi Daerah Operasi (IDO) merupakan burden yang harus dideteksi dan diatasi RS khususnya di era BPJS ini. IDO secara langsung meningkatkan pengeluaran RS melalui penambahan upaya-upaya pelayanan kesehatan seperti operasi ulang, pemanjangan hari rawat, serta re-admisi.

IDO merupakan salah satu bentuk harm peri-operatif yang harus dicegah dan diatasi. Harm peri-operatif tersebut diatasi dengan mencegah IDO itu sendiri dan membentuk teamwork operatif yang solid dan komunikasi yang efektif. Beberapa upaya telah direkomendasikan berbagai institusi kesehatan dunia seperti CDC maupun WHO guna menurunkan IDO. Penerapan Surgical Safety Checklist dalam banyak penelitian menunjukkan hasil yang baik, seperti penururunan inpatient complications, dan mortalitas.

Strategi Preventif IDO

Strategi Preventif IDO

Secara praktis, Fry (2008) membagi upaya pencegahan IDO tersebut dalam upaya inti (core) dan supplemental (tambahan) sesuai evidence based medicine (EBM). Beberapa upaya inti pencegahan praktis tersebut meliputi hal-hal di bawah ini.

PRE-OPERATIF (CORE)

  • Antibiotik Profilaksis sesuai guideline/ standar EBM
    • 1 jam sebelum insisi atau 2 jam  sebelum insisi bila menggunakan vancomycin/ fluoroquinolone
  • Pilih agen antibiotik yg sesuai berdasar: Jenis prosedur pembedahan; Patogen IDO yang paling umum untuk pembedahan tsb. ; Rekomendasi (SPM/ PPK, jurnal/ EBM, dll); infeksi tersembunyi
  • Identifikasi infeksi yang mungkin menyertai pasien & pempebrian treatment adekuat sebelum bedah elektif
  • Tunda operasi sedapat mungkin hingga infeksi dapat diatasi
  • Skin Prep –> Agen antiseptik + teknik aseptik benar
  • Pastikan normothermia post-operatif
  • Pasien bedah colorectal
    • Enema, cathartic agents
    • Berikan antibiotik oral yang non-absorbable dalam dosis terbagi sehari sebelum operasi
  • Jangan mencukur rambut, kecuali bila mengganggu prosedur operasi
    • Jangan menggunakan razors
    • direkomendasikan  menggunakan pencukur  elektrik/ clipper

 INTRA-OPERATIF (CORE)

  • —Pengaturan traffic ruang operasi –> Pastikan pintu OK tertutup selama operasi, kecuali jika dibutuhkan untuk lewat peralatan, personel, dan pasien.

 POST-OPERATIF (CORE)

  • —  Dressing –> Lindungi insisi dengan sterile dressing  selama selama 24-48 jam post-op
  • —  Kontrol Gula Darah segera selama periode post-operative (untuk operasi cardiac)
  • —  Pastikan gula darah post-operasi < 200mg/ dL
  • —  Hentikan penggunaan antibiotik dalam 24 jam setelah akhir pembedahan (48 jam untuk operasi jantung)

 

 

 

Referensi:

Fry DE,  Surgical site infections and the surgical care improvement project (scip): evolution of national quality measures, Surg Infect 2008;9(6):579-84.

Haynes AB et al, A surgical safety checklist to reduce morbidity and mortality in a global population, N Engl J Med 2009; 360:491-499.

Implementing the Surgical Safety Checklist: the journey so far. Diakses dari http://www.patientsafetyfirst.nhs.uk/ashx/Asset.ashx?path=/Implementing+the+Surgical+Safety+Checklist+-+the+journey+so+far+2010.06.21+FINAL.pdf pada 3 September 2014.

 van Klei WA, Effects of the introduction of the who “surgical safety checklist” on in-hospital mortality: a cohort study, Ann Surg. 2012 Jan;255(1):44-9.

Sharing is caring!