(28/3/14)  Pada tanggal 28 Maret 2014, MMR UMY mendapatkan kesempatan kuliah tamu dari dr. Faida, MMR selaku Dierktur RS Bina Sehat Jember. Kuliah umum oleh direktur RS yang memiliki jaringan kerjasama dalam hal pengembangan SDM khususnya perawat hingga ke Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan sekitarnya ini diberikan dalam 2 sesi. Sesi pertama terkait ”Ketenagakerjaan Rumah Sakit”  dan sesi kedua tentang  ”Strategi Bisnis  dan Aliansi Strategi Rumah Sakit.”

Dalam sesi pertama, dokter lulusan FK Universitas Airlangga ini memaparkan bahwa di Indonesia terdapat beberapa standar ketenaga-kerjaan yang dapat digunakan, di antaranya adalah Permenkes No. 262 Tahun 1979. Dalam permenkes ini disebutkan bahwa untuk perbandingan jumlah tempat tidur (TT) dengan jumlah tenaga medis yang dibutuhkan adalah berbeda antara RS tipe A, B, C dan D. Sebagai contoh, jika pada RS tipe A dan B, 1 orang tenaga medis dapat menangani setiap 4-9 tempat tidur, maka untuk RS tipe C 1 tenaga medis dapat menangani 9 tempat tidur dan untuk RS tipe C dapat menangani 15 tempat tidur. Demikian pula dengan ketentuan tenaga paramedis keperawatan dan non-perawat, serta tenaga non-medis berbeda untuk masing-masing tipe rumah sakit. Beliau menambahkan bahwa selain menggunakan Permenkes, rumah sakit juga dapat menggunakan referensi standar lain yakni Standar Kebutuhan Tenaga Minimal dan Indicators of Needs (ISN).

Kuliah Tamu dr. Faida, MMR

Kuliah Tamu dr. Faida, MMR

dr. Faida yang sangat peduli dengan kualitas dan pengembangan SDM RS ini memaparkan bahwa dalam perekrutan tenaga kerja, banyak sistem yang dapat digunakan oleh rumah sakit yang masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Di antara sistem perekrutan tersebut adalah sistem contracting dan sourcing. Sistem contracting sendiri dibagi menjadi contracting out, contracting in, franchising dan leasing. Namun, beliau menjelaskan bahwa di antara jenis sistem contracting, contracting out memiliki keunggulan yang lebih baik diantara jenis yang lain yakni dapat membedakan dengan jelas pembayar – penyedia pelayanan, mendorong terjadinya efisiensi alokatif, memaparkan penyedia pelayanan kepada pasar kompetitif sehingga meningkatkan kinerja dan meminimalkan biaya produksi. Untuk sistem perekrutan tenaga kerja yang kedua adalah sourcing, yang dibagi menjadi in-sourcing, outsourcing dan self-sourcing. Sistem outsourcing sendiri di Indonesia diatur dalam UU No.13 Tahun 2003.

Hal selanjutnya yang dijelaskan oleh alumni MMR UGM ini adalah perhitungan tenaga kerja dan dasar penyusunan ketenagaan. Beliau memaparkan bahwa dasar perhitungan tenaga kerja dapat menggunakan dasar 4 hal, yaitu pendekatan hasil kerja, objek kerja, peralatan kerja dan tugas per-tugas jabatan. Dalam memilih dasar perhitungan dapat menggunakan 4 hal di atas tergantung jenis pekerjaannya.

Dalam sesi kedua, dokter yang juga merupakan Chief Executive Officer Rumah Sakit Al Huda Banyuwangi ini memberikan materi tentang Strategi Bisnis dan Aliansi Strategi Rumah Sakit. Di awal pembahasan beliau mengatakan, “Agar organisasi RS mampu bertahan, perlu adanya keunggulan persaingan. Keunggulan persaingan yang diperoleh dapat memberikan kekuatan di atas kekuatan pesaing dan kemampuan untuk mengembangkan image produk layanan RS terhadap pasien (product positioning). Dalam pelayanan rumah sakit, terdapat 3 strategi dasar bersaing, yakni strategi cost leadership, strategi diferensiasi, serta strategi spesialisasi dan fokus. Beliau menambahkan bahwa dalam menjaga konsistensi rumah sakit, dokter atau tenaga kerja yang memiliki IQ tinggi saja tak cukup, maka dibutuhkan merancang taktik jual yang brilian sehingga tidak mudah ditiru oleh pesaing lain dalam waktu singkat.

Pada akhir kuliah, dr. Faida berpesan:

Jika kau ingin sukses

maka bersabarlah seperti nabi Ayub ,

jangan pernah menyerah, seperti Kolonel Sanders ,

jangan lupa bersedekah, jangan jadi Qarun,

jangan berhenti mencoba seperti Thomas Alva Edison,

berlatih keras seperti Anna Kournikova, dan

milikilah mental juara seperti Michael Schummacer.

(WP)

Sharing is caring!