SISTEM KETERPADUAN FUNGSIONAL DALAM GC2G

SISTEM KETERPADUAN FUNGSIONAL DALAM GC2G

Good governance atau tata kelola yang baik adalah suatu tuntutan bagi seluruh organisasi, tidak terkecuali rumah sakit. Hal tersebut menjadi  lambang baik atau tidaknya organisasi. Hal tersebut dibahas lebih mendalam dalam kuliah tamu oleh dr. Djoni Darmadjaja, Sp. B, MARS, FCSI, FInaCS pada 04 September 2014 di gedung AR Fachrudin UMY.

Dalam kuliah tamu tersebut dokter bedah yang juga merupakan surveyor KARS ini menyampaikan bahwa good governance akan mengarahkan bagaimana manajer akan mengelola rumah sakit.  Good Governance di rumah sakit terdiri dari dua komponen, yaitu good corporate governance (tata kelola rumah sakit yang baik) dan good clinical governance (tata kelola klinis yang baik).

Tata kelola rumah sakit yang baik (GCG) memiliki 6 ciri yang harus dipenuhi, yaitu accountability (tanggung jawab dalam menentukan sikap dan tindakan sehingga dapat menjelaskan secara rinci setiap sikap dan tindakan yang diambil), responsibility (pengambilan sikap atau tindakan yang efisisen dan terbaik), equitable treatment (kesetaraan perlakuan yang adil), transparency (dapat memaparkan setiap sikap yang diambil pada setiap pihak yang membutuhkan), vision to create long term value (dapat menciptakan nilai tambah jangka panjang dan pertumbuhan yang berkelanjutan) dan ethics. Selain 6 ciri yang harus dipenuhi, terdapat beberapa peangkat yang harus ada dalam GCG , salah satunya yang utama adalah hospital by law (HBL).

 

Apakah hospital by law itu ?

segitiga

HBL adalah suatu produk hukum yang merupakan anggaran rumah tangga rumah sakit yang ditetapkan oleh pemilik rumah sakit atau yang mewakili, yang berfungsi antara lain sebagai acuan pemilik rumah sakit dalam melakukan pengawasan; acuan direktur rumah sakit dalam mengelola dan menyusun kebijakan teknis operasional; sarana menjamin efektiftas, efisiensi, dan mutu; sarana perlindungan hukum; dan juga untuk memenuhi persyaratan akreditasi. HBL mempunyai kedudukan di bawah anggaran dasar rumah sakit, yang nantinya akan dijabarkan dalam aturan pelaksanaan seperti SOP dan uraian tugas.

 

Peran Clinical Governance

Sementara itu, clinical governance adalah mekanisme yang kuat, baru dan komprehensif untuk memastikan bahwa standar tinggi perawatan klinis yang dipertahankan di seluruh sistem kesehatan dan kualitas pelayanan terus dapat meningkat. Dalam clinical governance, organ yang menopang terdiri dari berbagai multidisiplin ilmu yang ada di rumah sakit, seperti komite medis, komite keperawatan, dan komite professional lainnya.

Cakupan Clinical Governance

Cakupan Clinical Governance

 

Membangun Budaya Organisasi

Setelah dapat memiliki good governance di rumah sakit, maka rumah sakit juga perlu membangun budaya organisasi pada setiap pegawainya. Budaya organisasi adalah perilaku manusia dalam sebuah organisasi. Termasuk dalam budaya organisasi adalah visi, nilai-nilai, norma, sistem, simbol, bahasa, asumsi, keyakinan, dan kebiasaan.

dr. Djoni memaparkan bahwa budaya organisasi yang harus diterapkan di rumah sakit adalah learning organization dan menjaga mutu dengan penerapan patient safety. Learning organization yang dimaksud adalah bahwa sebuah organisasi di mana seluruh anggotanya secara terus menerus meningkatkan kapasitas mereka untuk mencapai tujuan organisasi. Dengan penerapan good governance dan juga budaya organisasi yang baik diharapkan rumah sakit dapat menjalankana manajemen dengan baik sehingga mencapai visi misi rumah sakit dan meningkatkan derajat kemampuan pegawainya. (WP)

Sharing is caring!