Yogyakarta (28/02/2014) – Patient safety adalah salah satu tugas utama rumah sakit di samping sebagai  komponen penting yang harus dipenuhi untuk mencapai akreditasi RS, baik versi KARS maupun JCI. Laporan tentang kesalahan pelayanan kesehatan di berbagai negara menunjukkan angka yang mengkhawatirkan, sementara di Indonesia belum ada catatan resmi. Demikian pula risiko keselamatan penumpang pesawat jauh lebih rendah daripada risiko keselamatan orang yang pergi ke rumah sakit (pasien, pengunjung maupun pegawai rumah sakit). Hal ini terpapar dalam kuliah umum program studi Manajemen Rumah Sakit UMY  yang disampaikan oleh Ketua Institut Manajemen Risiko Klinis (IMRK), dr. Arjaty W. Daud, MARS.

Kuliah Umum dr. Arjaty W. Daud, MARS.

Kuliah Umum dr. Arjaty W. Daud, MARS.

Menurut Arjaty, untuk mewujudkan patient safety di rumah sakit diperlukan adanya manajemen risiko. Beberapa tools yang dapat digunakan dalam risk management antara lain Root Cause Analysis (RCA) dan Healthcare Failure Mode and Effects Analysis (HFMEA).” RCA dilakukan sebagai kajian mendalam setelah adanya adverse event sementara HFMEA dititik berat-kan untuk mencegah kejadian yang tidak diinginkan (KTD) sebelum terjadi,” ujar dokter lulusan Universitas Samratulangi Manado ini.

Dalam bidak logistik dan farmasi, untuk mencegah medical error dapat dilakukan dengan menerapkan manajemen LASA. Penempatan obat yang memiliki bentuk, nama dan warna yang serupa untuk dipisahkan agar tidak terjadi adverse event. Selain itu, dalam hal manajemen pelayanan medis kini telah muncul teknologi canggih untuk mencegah adanya medical error, yakni  Computerized Physician Order System ( CPOE ). Dengan CPOE dapat menurunkan keterlambatan pelaksanaan instruksi, mengurangi KTD akibat tulisan yang tidak jelas atau transkripsi yang salah dan membantu mengecek atau memberikan peringatan kemungkinan error berkaitan dosis ataupun tes fungsional yang tidak benar.

Dalam menjalankan patient safety diperlukan adanya sebuah “tim” yaitu Komite Mutu Keselamatan Pasien yang berkomitmen tinggi. Tim ini dipimpin langsung oleh direktur RS dan beranggotakan sub-komite Patient Safety, sub-komite Mutu, dan sub-komite Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Pada akhir kuliah, Arjaty menyampaikan diperlukan adanya leadership yang baik dari pimpinan rumah sakit terutama direktur, serta pentingnya terbangun budaya patien safety dengan kunci utama menghindari sikap blamming kepada para pegawai agar konsistensi pelaksaan patient safety tetap berjalan meskipun di luar target akreditasi.  Para pelaksana patient safety seperti dokter, perawat, manajemen RS, dan juga pelaksana lain harus disadarkan agar menjalankan patient safety dengan hati nurani dan menyadari bahwa patient safety adalah kewajiban sekaligus hak yang harus dijalankan. (WP)

Sharing is caring!