Rumah sakit merupakan tempat kerja di mana di dalamnya terdapat karyawan, orang sakit, pengunjung. Sebagai sebuah tempat kerja, Rumah Sakit menjadi sebuah lingkungan kerja dengan komponen fisik dan non-fisiknya. Rumah sakit dibangun dilengkapi dengan peralatan yang dijalankan dan harus dipelihara sedemikian rupa untuk menjaga dan mencegah terjadinya bencana dan kecelakaan. Untuk itulah maka rumah sakit seperti perusahaan ataupun pabrik penghasil barang memerlukan tim K3 (kesehatan dan keselamatan kerja). Kesehatan dan keselamatan kerja (K3) berkaitan dengan kesehatan dan keselamatan tenaga kerja, pekerjaan dan lingkungan kerja, yang meliputi segala upaya untuk mencegah dan menanggulangi segala sakit dan kecelakaan akibat kerja. K3 di rumah sakit termasuk dalam Manjemen Fasilitas dan Keselamatan (MFK) dalam standar akreditasi rumah sakit 2012. Hal ini disampaikan oleh dr. Tri Hastuti, M.S., Sp.Ok.  dalam kuliah umum program pascasarjana MMR UMY pada 14 Juni 2014.

Kuliah Umum dr. Tri Hastuti, MS., Sp.Ok.

Kuliah Umum dr. Tri Hastuti, MS., Sp.Ok.

Dalam kuliahnya, dokter yang bekerja di RSUP Persahabatan ini memaparkan bahwa tujuan MFK adalah agar rumah sakit menyediakan  seluruh fasilitas fisik dan peralatan medis yang aman & fungsional  dan terdapat petugas yg mengelola secara efektif. Dengan dasar tersebut maka  para manajer  rumah sakit harus  menerapkan manajemen risiko untuk mengurangi dan mengkontrol risiko, mencegah kecelakaan dan luka, dan memelihara alat sesuai kondisi. Dalam pelaksanaan manajemen risiko terdapat 6 siklus yang harus dilakukan oleh manajemen yaitu perencanaan, pendidikan, pelaksanaan, respon, monitor dan perbaikan.

Dokter yang juga penulis buku berjudul “Kesehatan dan Keselamatan Kerja” ini memaparkan bahwa MFK dalam standar akreditasi rumah sakit terdiri dari 11 bab yang melibatkan semua komponen rumah sakit, baik manajemen maupun para pegawai seperti dokter dan perawat, teknisi dan pegawai lainnya. Rumah sakit perlu membuat rencana induk atau rencana tahunan MFK yang mencakup hal  tersebut di bawah ini.

a. Keselamatan dan Keamanan

  1. Keselamatan—suatu tingkatan keadaan tertentu di mana gedung, halaman/ ground dan peralatan rumah sakit tidak menimbulkan bahaya atau risiko bagi pasien, staf dan pengunjung.
  2. Keamanan—-proteksi dari kehilangan, perusakan dan kerusakan, atau akses serta penggunaan oleh mereka yang tidak berwenang.

b. Bahan berbahaya—–penanganan, penyimpanan dan penggunaan bahan radioaktif dan bahan berbahaya lainnya harus dikendalikan dan limbah bahan berbahaya dibuang secara aman.

c. Manajemen emergensi —- tanggapan terhadap wabah, bencana dan keadaan emergensi direncanakan dan efektif

d. Pengamanan kebakaran —- properti dan penghuninya dilindungi dari kebakaran dan asap.

e. Peralatan medis peralatan dipilih, dipelihara dan digunakan sedemikian rupa untuk mengurangi risiko.

f. Sistem utilitas —- listrik, air dan sistem pendukung lainnya dipelihara untuk meminimalkan risiko kegagalan pengoperasian.

Di akhir kuliahnya, dr Tri Hastuti, MS, Sp.Ok. berharap para mahasiswa MMR UMY dapat menjadi para manajer yang dapat mengelola fasilitas dan keselamatan rumah sakit dengan baik dan dapat membangun rumah sakitnya masing-masing dan menjalankannya sesuai standar KARS sehingga tujuan rumah sakit yang salah satunya patient safety dapat terwujud. (WP)

Sharing is caring!