Manajemen Persediaan di Rumah Sakit

07/11/2017 oleh : mmr

-Firman Pribadi-

Manajemen Bahan Baku dan Manajemen Persediaan

Di sebagaian besar RS, termasuk persediaan (supplies) dan farmasi (obat2an) adalah biaya non tenaga kerja terbesar dalam anggaran (budget) operasi dan karenanya membutuhkan perhatian khusus. Manajemen bahan baku yang tepat dapat mempunyai pengaruh yang signifikan pada biaya operasi dan karenanya berdampak pada pendapatan bersih organisasi. Manajemen Bahan Baku didefinisikan secara lebih luas dibandingkan dengan manajamen persediaan, yaitu Manajemen Bahan Baku adalah manajemen dan kontrol persediaan, jasa, dan peralatan (equipment dari akuisisi hingga disposisi), sedangkan manajemen Persediaan adalah manajemen dan kontrol persediaan atau item yang mempunyai umur kemanfaat harapan kurang dari 12 bulan (Suver, Neumann, dan Boles 1992).

RS mengklasifikasikan bahan baku menjadi dua kelompok, yaitu pertama bahan baku untuk Perawatan pasien terdiri dari medical supplies, surgical supplies, obat2an, linen, dsb. Kedua bahan baku untuk administrasi terdiri dari houskeeping supplies, office supplies dan persediaan lain yang tidak digunakan secara langsung bagi perawatan pasien.

Tujuan dari manajemen Bahan baku atau Material adalah untuk  meminimalkan biaya total terkait dengan bahan baku dan  menjamin ketepatan Bahan Baku baik secara kualitas maupun kuantitas. Pertanyaanya adalah mengapa mengapa manajemen bahan baku ini penting?, karena rumah sakit harus mempunyai persediaan dalam jumlah jenis dan jumlah yang tepat untuk perawatan pasien, dimana Jenis yang tepat dari persediaan dapat ditentukan oleh manajer bahan baku/ pembelian atas masukan dari komite pengguna. Selanjunya Jumlah tepat dari persediaan hal yang sulit untuk diproyeksikan karena 3 alasan yaitu:

  • Waktu, Adanya lag time antara pemesanan dan penerimaan persediaan
  • Ketidakpastian Permintaan akan persediaan biasanya akan berfluktuasi baik dalam volume maupun ragam pasien. , Untuk menghadapi ketidakpastian ini manajer bahan baku/pembelian dapat meminta/menemui masing manajer departemen untuk menentukan kebutuhan aktual yang dipandang penting
  • Diskontinuitas berarti bahwa proses persediaan telah terhenti (disrupted), mungkin karena model baru dari penawaran atau kesalahan pengantaran, maka RS harus mempunyai stok di tangan untuk kontinuitas proses perawatan pasien

Alasan lain pentingnya manajemen bahan baku adalah Biaya, karena  persediaan seperti piutang yang merupakan aset yang tidak produktif atau tidak bertumbuh sehingga tidak mendatangkan income. Dan fakta menunjukan piutang dan persediaan akan hilang nilainya sejalan dengan waktu dimana piutang yang terlalu lama menjadi bad debt, dan persediaan akan menjadi expired.

Ada 4 metode yang biasa digunakan untuk menilai persediaan yaitu: (a) FIFO –  item pertama yang masuk kedalam persediaan adalah item pertama yang dikeluarkan dari persediaan. FIFO menghasilkan persediaan item terbaru. Total biaya persediaan ditentukan dengan mengali biaya per unit dari item terbaru dalam persediaan dengan jumlah unit dalam persediaan, (b) LIFO –  item terakhir yang masuk kedalam persediaan adalah item pertama yang dikeluarkan dari persediaan. LIFO menghasilkan persediaan dari item terlama. Total biaya dari dari persediaan ditentukan dengan mengali biaya unit dari item terlama dalam persediaan dengan jumlah unit dalam persediaan, (c) Weighted average: Menentukan biaya rata-rata item dalam persediaan dan kemudian megalikan biaya rata-rata dengan jumlah unit dalam persediaan, (d) Identifikasi Khusus atau specific identification – menentukan biaya aktual dari masing-masing item dalam persediaan. Idenifikasi khusus digunakan ketika persedian mudah untuk diidentifikasi dan ketika biaya dari masing-masing item persediaan tinggi.

Selengkapnya bisa KLIK DISINI => Manajemen Persediaan di Rumah Sakit