Acute Coronary Syndrome (ACS) sebagai Kegawat Daruratan

ACS merupakan suatu keadaan gawat darurat jantung dengan manifestasi klinis berupa keluhan perasaan tidak enak atau nyeri di dada atau gejala-gejala lain sebagai akibat iskemia miokard. Manifestasi klinis Acute Coroner Syndrome dapat berupa angina pektoris tidak stabil/ APTS, Non-ST elevation myocardial infarction/ NSTEMI, atau ST elevation myocardial infarction/ STEMI. Pasien APTS dan NSTEMI harus istirahat di ICCU dengan pemantauan EKG kontinyu untuk mendeteksi iskemia dan aritmia (1).

Angka kematian di negara maju/ industri masih cukup tinggi yaitu 30% terjadi pada 2 jam pertama perawatan, namun setelah ada pelayanan Coronary Care Unit (CCU) mulai tahun 1960 angka kematian turun menjadi 20% dan selanjutnya dengan penggunaan terapi trombolitik pada tahun 1980 angka kematian menurun menjadi 10%. Namun demikian, kematian mendadak masih merupakan manifestasi dari IMA (Infark Miokard Akut) (2).

Keterlambatan dalam penanganan kasus ACS ini dapat mengakibatkan kematian. Penelitian di negara-negara Eropa menemukan 10 % kematian akibat serangan jantung tiap jamnya merupakan kontribusi dari keterlambatan antara waktu pasien/ keluarga memanggil ambulans dan waktu pasien ditangani di rumah sakit (3).

Delay in Treatment pada Acute Coronary Syndrome

Menurut kriteria WHO, diagnosis ACS ditegakkan bila ada 2 dari 3 keadaan ini, nyeri dada tipikal (angina), perubahan EKG, dan peningkatan serum kardiak (biokimia). Angina Pektoris (AP) yang timbul pada ACS biasanya timbul lebih lama, lebih berat, tidak hilang dengan cara biasa dilakukan. Angina pada ACS biasanya timbul lebih lama >15 menit, lebih berat, tidak hilang dengan cara yang biasa dilakukan pasien untuk mengatasi/menghilangkan AP, atau tidak hilang dengan pemakaian nitrogliserin berulang sampai 2 tablet sublingual dalam 10 menit. Semua keseluruhan rasa tidak enak di dada khususnya pada pasien resiko tinggi, perlu dilakukan evaluasi. Pasien-pasien usia lanjut, diabetik dan wanita sering menampilkan keluhan berbeda, yaitu tidak klasik AP, bahkan dapat tanpa gejala AP. STEMI adalah ACS dengan gambaran elevasi ST dan non STEMI yaitu ACS tanpa elevasi ST (4).

Dalam penanganan ACS, WAKTU adalah dasar utama dan menentukan prognosis. Hal yang perlu dikenali sehingga dapat mencegah delay treatment pada acute coronary syndrome menurut Husein (2014) yaitu:

Pasien dan Keluarga :
Pasien dan keluarganya harus paham, mengenali dan bereaksi cepat bila ada serangan jantung, segera bawa ke rumah sakit terdekat. Pengetahuan dan kesadaran akan bahaya ACS oleh pasien dan keluarga akan berpengaruh dalam pengambilan keputusan tindakan medis nantinya.
Dokter IGD :
Dokter umum merupakan titik pertama dalam kontak terhadap penderita yang dicurigai mengalami infark miokard, ketepatan diagnosis dan initial treatment oleh dokter adalah hal yang sangat penting. Dokter harus bisa bertindak dengan cepat atau membuat persiapan untuk melakukan defibrilasi dan trombolisis secara efektif.
Dokter Kardiolog :
Ahli kardiologi harus yakin bahwa ada sistem yang optimal untuk rawat jantung di rumah sakit mereka. Hal ini termasuk pelatihan yang memadai dari personel ambulans dan dokter lini pertama, pengaturan yang efisien mengenai diagnosis dan perawatan infark miokard di unit gawat darurat, dan pengaturan untuk pemberian trombolitik. Pencatatan harus dibuat secara baik, sejak awal perawatan dan pemberian trombolisis (cath-to-needle time) dan sejak dari masuknya ke rumah sakit sampai trombolisis diberikan (door-to-needle time). Catatan harus dibuat untuk terapi pencegahan sekunder bagi mereka yang selamat dari infark miokard definitif.
Rumah Sakit :
Fasilitas Rumah sakit : penuhnya fasiitas rawat inap yaitu kamar sehingga penangananan menjadi tertunda dalam waktu yang tidak dapat dipastikan. Dengan begitu pasien pun harus dirujuk kerumahsakit lain sehingga rentang waktu penanganan pasien menjadi terlambat.
Standar Pedoman : Standar pelayanan ACS yang baik meliputi SPM, SPK, SPO ataupun Clinical Pathway harus dimiliki dan diterapkan oleh rumah sakit sesuai denagn fasilitas yang dimiliki. Peraturan itu dibuat sebagai acuan atau pedoman dalam penatalaksanaan kasus terhadap pasien dimana telah sesuai dengan kesiapan rumah sakit tersebut
Asuransi yang digunakan oleh pasien juga sangat berpengaruh terhadap penanganan pasien karena ada beberapa obat dan prosedur yang dilakukan dan tidak dilakukan untuk asuransi tertentu.

Managemen Rumah Sakit dalam menanggulangi Delay Treatment pada Kasus Acute Coronary Syndrome
Berbagai pedoman dan standar terapi telah dibuat untuk penatalaksanaan penderita ACS. Agar standar dan strategi pengobatan serta penatalaksanaan pasien ACS berlangsung secara optimal, efektif dan efisien sesuai dengan pedoman atau standar terapi yang telah ditetapkan, maka perlu adanya suatu sistem dan/ atau mekanisme yang secara terus menerus memonitor dan memantau terapi yang diterima pasien (1).

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Husein (2014), dijelaskan bahwa faktor yang berpengaruh dalam delay treatment dalam penanganan ACS di RS adalah:
• Kepatuhan dalam penatalaksanaan ACS di IGD berdasarkan pedoman yang ada harus baik, demikian pula dengan kesiapan tim medis yang dengan kompetensi yang sesuai dalam tindakan penanganannya.
• Ketidak-lengkapan status rekam medis masih menjadi temuan dalam audit rumah sakit, selain itu pencatatan waktu berjalannya penanganan tidak ditemukan karena belum ada kebijakan yang mengatur kelengkapan data tersebut di status rekam medis pasien.
• Penatalaksanaan kasus ACS mengacu pada algoritma ACLS atau SPM yang seharusnya selalu direvisi sesuai perkembangan ilmu pengetahuan.
• Masalah dalam penatalaksanaan ACS pada perawatan lanjutan saat keluar dari IGD di mana ini disebabkan oleh kamar di bangsal penuh.
• Kebijakan terhadap pasien dengan jaminan/ asuransi harus berpihak kepada pasien.
• Pengambilan keputusan dalam penentuan pengobatan pasien seperti penolakan pasien/ keluarga pasien untuk persetujuan dirawat dan dirujuk masih menjadi kontributor delay in treatment.
Dalam penanganan ACS tidak hanya terlihat dari aspek tindakan emergensi di IGD saja, namun aspek perwatan selanjutnya sangat berpengaeruh. Untuk menangani masalah ini, diperlukan adanya audit medis dalam kelengkapan status rekam medis, edukasi terhadap pasien/ keluarga terhadap pentingnya pengananan reperfusi segera jika diindikasikan, adanya kebijakan resmi yang mengatur standar penatalaksanaan ACS di IGD, baik SPM, PPK, atau kebijakan lain yang sesuai dengan sistem pelayanan di Rumah Sakit. Adanya standar pelayanan yang sesuai dengan sistem RS merupakan cara untuk meningkatkan pelayanan terhadap pasien dengan menjunjung keselamatan pasien saat dilakukan tindakan.

Artikel ini disadur dari Tesis Prodi Manajemen Rumah Sakit Program Pascasarjana UMY Tahun 2014 oleh Mayfuza Husein dengan judul “Evaluasi Kepatuhan dalam Penatalaksanaan Pasien Sindrom Koroner Akut di IGD RSU PKU Muhammadiyah Bantul.” (EV)

Referensi :
1. Depkes R.I, 2006, Pharmaceutical Care Untuk Pasien Penyakit Jantung Koroner : Fokus Sindrom Koroner Akut, Direktorat Bina Farmasi Komunitas Dan Klinik Ditjen Bina Kefarmasian Dan Alat Kesehatan, Jakarta.
2. Sargowo, D 2008, Management Of Acute Coronary Syndrome. Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang, Malang.
3. JAMA, 2010, Journal Of The American Medical Association: Death From Heart Attack Rise With Delays In Care, Diakses Dari http://consumer.healthday.com/cardiovascular-and-health-information-20/misc-stroke-related-heart-news-360/death-from-heart-attack-rise-delays-in-care-642182.html pada 17 oktober 2013
4. RSU, 2012, Profil RSU PKU Muhammadiyah Bantul, Yogyakarta GELS, 2012, General Emergency Life Support (GELS), RSUP Dr. Sardjito Jogjakarta, Yogyakarta

Sharing is caring!