“Klinik Pratama dan Utilisasi Dokter Lulusan Fakultas Kedokteran

Perguruan Tinggi Muhammadiyah”

Yogyakarta – Masih terngiang jelas di hati dan telinga kita semangat Ahmad Dahlan yang begitu visioner dalam pesan yang disampaikannya lebih dari 100 tahun yang lalu,   “Jadilah Dokter dan kembalilah ke Muhammadiyah.” Nasihat ini tidaklah sesempit kata-kata yang kita baca. Lebih dari itu, nasihat itu begitu luas maknanya ketika direnungkan. Menjadi dokter, menjadi insinyur, menjadi apapun umat Islam kelak setelah menempuh pendidikan di manapun maka kembalilah ke Muhammadiyah, dalam artian kembalilah kepada semangat berjuang, berbakti kepada umat, berdakwah dengan tulisan, lisan, dan perbuatan untuk membangun sebuah negara yang baldatun thoyyibatun wa robbun ghoffur. 

dr. Slamet Budiarto, SH, MH.Kes  sumber gambar: idisurolangon.blogspot.com

dr. Slamet Budiarto, SH, MH.Kes
sumber gambar: idisurolangon.blogspot.com

Cita-cita besar ini bergema dalam Rakernas MPKU III di Auditoriaum Asri Medical Center Minggu (3/5), yaitu membangun jaringan kesehatan yang kuat berlandaskan nilai-nilai Islami di seluruh penjuru Indonesia. Disampaikan oleh dr.Slamet Budiarto, SH, MH.Kes. selaku Koordinator Bidang Hukum dan Hubungan Kerjasama Antar Lembaga MPKU PP Muhammadiyah dalam Rakernas MPKU ke-3 periode 2010-2015  mengenai  Kesiapan Muhamadiyah menyongsong BPJS khususnya dalam Klinik Pratama,  “Gerakan yang  disusun oleh  MPKU PP Muhammadiyah dalam rakernas periode ini antara lain adalah gerakan 1000 tempat tidur, dan  Gerakan Sister Hospital. Gerakan 1000 TT diperuntukan bagi lembaga pelayanan kesehatan dan pendidikan  di mana nantinya akan tumbuh menjadi sistem rujukan jejaring yang disebut dengan Gerakan Sister Hospital.

Presentasi dr. Erwin_Dokter kembali ke Muhammadiyah

Dokter yang juga merupakan ketua PFKI (Persatuan Fasilitas Kesehatan Indonesia) ini  menjelaskan  bahwa banyaknya lulusan tenaga kesehatan dari perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah yaitu 720 dokter pertahun, ribuan tenaga perawat dan bidan, ratusan apoteker, dan didukung dengan 86 RS serta ratusan klinik pemberi pelayanan primer  seharusnya sangatlah mendukung terbentuknya pelayanan kesehatan yang bernafaskan Muhammadiyah.  Namun sayangnya banyaknya tenaga kesehatan lulusan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) tidak kembali ke Muhammadiyah dan menyebabkan Fasyankes Muhammadiyah masih belum tercukupi kebutuhan tenaga kesehatan-nya serta harus menerima lulusan perguruan tinggi lainnya. Oleh karena itu, kini Muhammadiyah memberikan beasiswa bagi calon dokter yang ingin kembali membaktikan dirinya di Amal Usaha Kesehatan (AUK) Muhammadiyah. Beasiswa ini diberikan kepada mahasiswa profesi selama menempuh pendidikan koass dengan catatan mahasiswa penerima  beasiswa harus mengabdi  selama “n” tahun untuk menyelesaikan pendidikan koass.

Selain itu dilatarbelakangi oleh  banyaknya klinik pelayanan primer Muhammadiyah yang gagal tumbuh disebabkan antara lain oleh  mismanajemen internal, tidak adanya dokter tetap (SDM), networking/ jejaring dengan sesama AUK dan FK PTM yang lemah atau belum ada maka diharapkan dengan adanya Gerakan Sister Hospital dan Dokter Kembali ke Muhammadiyah dapat menumbuh-suburkan Klinik Pratama.

Dokter yang ahli di bidang hukum tersebut menjelaskan syarat-syarat umum Klinik Pratama yaitu minimal 2 Dokter Umum, dapat melakukan rawat inap dengan 5-10 TT, menyelenggarakan pelayanan medik dasar baik umum maupun khusus. Klinik rawat jalan dapat didirikan oleh perorangan atau badan usaha, sedangkan klinik rawat inap harus didirikan oleh badan hukum.

  • Bangunan klinik harus bersifat permanen dan tidak bergabung fisik bangunannya dengan tempat tinggal perorangan (tidak termasuk apartemen, rumah toko, rumah kantor, rumah susun, dan bangunan yang sejenis)
  • Dalam hal kefarmasian, klinik rawat jalan tidak wajib melaksanakan pelayanan farmasi. Bila klinik rawat jalan yang menyelenggarakan pelayanan kefarmasian, mereka wajib memiliki apoteker yang memiliki Surat Izin Praktik Apoteker (SIPA) sebagai penanggung jawab atau pendamping. Klinik rawat inap wajib memiliki instalasi farmasi yang diselenggarakan apoteker yang bertugas melayani resep dari dokter klinik yang bersangkutan, serta dapat melayani resep dari dokter praktik perorangan maupun klinik lain.
  • Pelayanan Klinik Pratama hanya dapat melakukan bedah kecil (minor) tanpa anestesi umum dan/atau spinal, operasi sedang yang berisiko tinggi; dan operasi besar.

Dengan latar belakang banyaknya tenaga kesehatan lulusan PTM dan terjangkaunya persyaratan Klinik Pratama, maka Muhammadiyah bertujuan untuk: 1) mewujudkan kerja sama Majelis Pendidikan Tinggi dan Majelis Pelayanan Kesehatan Umum Muhammadiyah dalam mengembangkan Amal Usaha Muhammadiyah Bidang Kesehatan; dan 2) Pengisian atau pemenuhan kebutuhan tenaga dokter tetap AUK dengan lulusan FK PTM melalui pemberian beasiswa. Hal ini diungakapkan oleh narasumber kepada para peserta yang didominasi Direktur RS PKU Muhammadiyah se-Indonesia.

Klinik Pratama dinilai mudah dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat karena bersifat layanan primer. Klinik pratama yang terbentuk nantinya selain melayani masyarakat non-asuransi diharapkan juga bergabung bersama BPJS di mana sistem pembayaran dengan kapitasi yaitu Tarif RS Pratama, Klinik Pratama, Praktek Dokter, atau Fasilitas Kesehatan yang setara sebesar Rp 8.000,00 s.d. Rp 10.000,00/ orang dan Praktik Dokter Gigi di luar Fasilitas Kesehatan sebesar Rp 2000,00/ orang.

“Dengan terbentuknya Klinik Pratama dan sistem rujukan Gerakan Sister Hospital diharapkan Muhammadiyah sudah siap menjadi Fasyankes pilihan masyarakat nantinya karena mau tidak mau Fasyankes harus bekerja sama dengan BPJS di mana pada tahun 2019 seluruh masyarakat Indonesia ter-cover oleh BPJS,” ditekankan kembali oleh dr. Slamet di akhir presentasi. (EV)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Gerakan Sister Hospital Muhammadiyah