Bertempat di Hotel IBIS Yogyakarta, dr. Erwin Santosa M.Kes menyampaikan Orasi Ilmiah bertopik leadership dan manajemen organisasi dalam acara Pelepasan Wisudawan/ wisudawati MMR UMY Periode Wisuda Februari 2015. Acara yang diselenggarakan dalam menerima alumni baru MMR UMY ini diselenggarakan dengan khidmat dan penuh kesan ilmiah.

Dalam orasinya, dr. Erwin menyampaikan bahwa Rumah Sakit adalah salah satu organisasi kompleks yang terdiri dari berbagai macam sumber daya yang kompleks. RS sebagaimana perusahaan dituntut untuk memiliki keunggulan kompetitif yang didukung intelegensi organisasi untuk mengelola pengetahuan melalui proses belajar berkelanjutan. Organisasi belajar (learning organization)sangat diperlukan perusahaan terutama dalam menghadapi perubahan lingkungan yang sangat cepat. Sejak diperkenalkan tahun 1990an, teori ini masih sulit diterapkan secara aktual dalam praktek manajemen di berbagai perusahaan termasuk RS. Oleh karena itu, perlu dilakukan redefinisi dan reorientasi konsep dan implementasi terhadap organisasi belajar

Lebih lanjut, dr. Erwin menyampaikan apa yang dikemukakan Peter Senge seperti dikutip oleh Yusufhadi Miarso (2002), bahwa organisasi belajar sebagai suatu disiplin untuk mengembangkan potensi kapabilitas individu dalam organisasi memiliki karakter The Fifth Dicipline sebagai berikut:

1)Berpikir Sistem (Systems Thinking)

Setiap usaha manusia, termasuk bisnis, merupakan sistem karena senantiasa merupakan bagian dari jalinan tindakan atau peristiwa yang saling berhubungan, meskipun hubungan itu tidak selalu tampak. Oleh karena itu organisasi harus mampu melihat pola perubahan secara keseluruhan, dengan cara berpikir bahwa segala usaha manusia saling berkaitan, saling mempengaruhi dan membentuk sinergi.

2)Penguasaan Pribadi (Personal Mastery)

Setiap orang harus mempunyai komitmen untuk belajar sepanjang hayat dan sebagai anggota organisasi perlu mengembangkan potensinya secara optimal. Penguasaan pribadi ini merupakan suatu disiplin yang antara lain menunjukan kemampuan untuk senantiasa mengklarifikasi dan mendalami visi pribadi, memfokuskan energi, mengembangkan kesabaran, dan memandang realitas secara obyektif. Kenyataan menunjukkan bahwa seseorang memasuki suatu organisasi dengan penuh semangat, tetapi setelah merasa “mapan” dalam organisasi itu lalu kehilangan semangatnya. Oleh karena itu, disiplin ini sangat penting artinya bahkan menjadi landasan untuk organisasi belajar.

3)Pola Mental (Mental Models)

Setiap orang mempunyai pola mental tentang bagaimana ia memandang dunia di sekitarnya dan bertindak atas dasar asumsi atau generalisasi dari apa yang dilihatnya itu. Seringkali seseorang tidak menyadari pola mental yang mempengaruhi pikiran dan tindakannya tersebut. Oleh karena itu setiap orang perlu berpikir secara reflektif dan senantiasa memperbaiki gambaran internalnya mengenai dunia sekitarnya, dan atas dasar itu bertindak dan mengambil keputusan yang sesuai.

4)Visi Bersama (Shared Vision)

Organisasi yang berhasil berusaha mempersatukan orang-orang berdasarkan identitas yang sama dan perasaan senasib. Hal ini perlu dijabarkan dalam suatu visi yang dimiliki bersama. Visi bersama ini bukan sekedar rumusan keinginan suatu organisasi melainkan sesuatu yang merupakan keinginan bersama. Visi bersama adalah komitmen dan tekad dari semua orang dalam organisasi, bukan sekedar kepatuhan terhadap pimpinan.

5)Belajar Beregu (Team Learning)

Dalam suatu regu atau tim telah terbukti bahwa regu dapat belajar dengan menampilkan hasil jauh lebih berarti daripada jumlah penampilan perorangan masing-masing anggotanya. Belajar beregu diawali dengan dialog yang memungkinkan regu itu menemukan jati dirinya. Dengan dialog ini berlangsung kegiatan belajar untuk memahami pola interaksi dan peran masing-masing anggota dalam regu. Belajar beregu merupakan unsur penting, karena – regu bukan perorangan – merupakan unit belajar utama dalam organisasi.

Adapun perbedaan karakteristik organisasi tradisional dan konvensional dijelaskan dalam tabel berikut.

Karakteristik Organisasi Tradisional Organisasi Belajar
Siapa yang belajar? Para manajer/karyawan yang ditunjuk Seluruh manajer/karyawan dari semua unit kerja
Siapa yang mengajar? Pelatih atau nara sumber dari luar Atasan langsung, pelatih dan nara sumber
Siapa yang ber- tanggungjawab

Piranti belajar yang digunakan?

Departemen Diklat

Kursus, magang, pelatihan formal, bimbingan, rencana pelatihan

Setiap manajer/karyawan

Kursus, magang, rencana belajar, tim, mitra kerja, ukuran kinerja, refleksi pribadi

Kapan belajar? Ketika dibutuhkan, saat orientasi atau sesuai kebutuhan Sepanjang hayat, untuk jangka panjang
Kompetensi apa yang dipelajari? Teknik Teknis dan manajerial, hubungan pribadi, bagaimana belajar
Dimana belajar? Ruang kelas, tempat kerja Ruang rapat, saat melakukan pekerjaan, di mana saja
Waktu? Untuk saat ini sesuai kebutuhan Untuk masa yang akan datang
Motivasi? Ekstrinsik dan terpaksa Intrinsik dan semangat

Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan penyematan pin alumni sebagai tanda telah bergabungnya lulusan baru MMR ke dalam HAMMERS (Himpunan Alumni dan Mahasiswa MMR) sebagai alumni. Pada malam tersebut juga diberikan penghargaan kepada lulusan terbaik (Abd. Majakin, S.Ag., MMR) yang menyandang predikat sangat memuaskan dengan IPK 3,9.

Sharing is caring!