Oleh: dr. Merita Arini, MMR

Sudah bukan hal yang baru bagi dunia kesehatan khususnya rumah sakit untuk melibatkan pasien dan keluarga dalam pelayanan kesehatannya. Pasien berhak atas informasi tentang kondisinya terkait treatment yang akan diberikan dan outcome yang diharapkan maupun tidak sebagaimana tertuang dalam Pasal 32 UU no 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit. Pasien dan keluarga yang terpenuhi haknya atas akses informasi dan pelayanan berfokus pasien akan mendapatkan “experience” yang bersifat lebih positif daripada kepuasan pelanggan. Hal ini akan meningkatkan loyalitas pasien dan keluarga terhadap RS.

sumber gambar: www.muslimpress.com

sumber gambar:
www.muslimpress.com

Salah satu upaya yang dapat digunakan untuk meningkatkan keterlibatan pasien dalam perawatan pasien adalah dengan menggunakan patient pathways. Sebagaimana disampaikan oleh Midleton dan roberts (2000) melalui tools ini, pasien dapat memiliki “diary of events,” di mana pasien dapat bertukar informasi dengan staf mengenai aktivitas perawatan hari ke hari untuk memastikan tidak ada kesalahpahaman antara penerima dan pemberi pelayanan kesehatan. Dengan alat ini juga, diharapkan pasien dapat mengerti dan turut mengontrol apa yang sedang dan akan terjadi terhadap dirinya, kapan, di mana, dan oleh siapa. Alat ini juga dapat digunakan untuk menilai perspektif pasien baik dalam hal pengetahuan atas kesehatan maupun perawatan serta kepuasan/ experience-nya selama mendapat pelayanan di RS.

Seperti halnya clinical pathways, patient pathways memiliki format yang tidak jauh berbeda. Patient Pathways sebaiknya memuat (Midleton dan Roberts, 2000) :

  1. Introduksi tentang patient pathways itu sendiri. Bagian ini umumnya berisi tentang definisi dan kegunaan patient pathways secara singkat.
  2. Guidance/ panduan tentang bagaimana menggunakan patient pathways.
  3. Deskripsi tentang clinical pathways dan penggunaanny.a
  4. Detail tentang bagaimana clinical pathways dipelihara.
  5. Informasi tentang kondisi pasien dan treatment (termasuk pemeriksaan dan segala hal yang akan didapatkan selama perawatan atas penyakitnya) dari hari ke hari.
  6. Informasi yang menjelaskan tentang variasi yang terduga maupun tidak, serta bagaimana pelayanan kesehatan akan diberikan dengan berfokus kepada pasien sesuai kebutuhannya.

Konsep patient pathways  belum banyak diterapkan di rumah sakit di Indonesia. Rumah sakit umumnya masih berkonsentrasi pada  bagaimana agar clinical pathways diimplemntasikan secara optimal. Meskipun demikian, kedua alat ini sesungguhnya dapat digunakan secara beriringan. Penggunaan patient pathways dengan sendirinya dapat mengawal implementasi clinical pathways.

 

Referensi:

Midleton S, Roberts A, 2000, Integrated care pathways, a practical approach to implementation, Butterworth-Heinemann,UK.