Apakah CPOE itu ?

sumber gambar: www.nahealt.com

sumber gambar: www.nahealt.com

Computerized physician order entry (CPOE) adalah proses pemasukan instruksi secara elektronik untuk penanganan pasien oleh dokter. Instruksi ini akan dikomunikasikan melalui jaringan komputer ke petugas kesehatan lainnya, misalnya ke dokter lain, perawat, terapis, ahli gizi, farmasi dan laboratorium (1). CPOE muncul ketika isu patient safety mulai muncul di kalangan rumah sakit. Menurut Wendy (2008) KTD tertinggi terjadi akibat kesalahan dalam pengobatan (medication error) terutama masalah peresepan, baik tulisan yang tidak jelas, dosis yang kurang, salah identifikasi pasien, ataupun salah cara pemberian (2). CPOE telah dikenal dan digunakan oleh rumah sakit di negara berkembang selama sepuluh tahun terakhir ini (3). Di indonesia sendiri hanya sedikit rumah sakit yang telah menggunakan sistem CPOE.

Manfaat CPOE

Hasil Implementasi CPOE di Amerika. sumber: American Medical Association (www.http://virtualmentor.ama-assn.org/2004/03/pfor3-0403.html)

Hasil Implementasi CPOE di Amerika. sumber: American Medical Association (www.http://virtualmentor.ama-assn.org/2004/03/pfor3-0403.html)

Sesuai dengan latar belakang munculnya CPOE, maka tujuan lahirnya CPOE adalah untuk meningkatkan patient  safety. Bagaimana hal tersebut dapat terjadi? CPOE bekerja dengan terintegrasinya seluruh jaringan komunikasi di suatu rumah sakit, sehingga memungkinkan pemberian instruksi oleh dokter dapat dilakukan dengan cepat. Dengan demikian, risiko keterlambatan tindakan pada pasien terutama pasien gawat darurat dapat dihindari. Selain itu, karena pemberian instruksi dilakukan secara computerized,  maka resiko terjadinya kesalahan dalam membaca instruksi maupun resep dapat diperkecil. Di sisi lain, CPOE mempunyai sistem canggih yang memungkinkan sistem komputer memberikan alarm ketika instruksi yang dimasukkan salah, baik salah dosis, salah cara pemberian, peringatan interaksi obat, ataupun peringatan bahwa pasien memiliki alergi terhadap obat tertentu. Dapat dikatakan bahwa CPOE sangat bermanfaat bila diterapkan di rumah sakit. Hal ini sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan di Amerika pada tahun 2002, di mana penerapan CPOE menurunkan kejadian medication error sebanyak 12,5 % atau sekitar 17,4 medication error dapat dicegah dengan likelihood ratio 48 % (95% CI 41% to 55%) (4). Hasil penelitian lain tersaji dalam gambar (5).

Keterbatasan CPOE

Seperti teknologi lain, CPOE juga memiliki kelemahan. CPOE adalah sebuah teknologi yang membutuhkan suatu sistem yang terdiri dari software dan hardware. Software CPOE sendiri hingga kini masih bersifat komersil sehingga membutuhkan nominal cukup besar untuk dapat diimplementasikan di RS. Hal tersebut menyebabkan banyak rumah sakit belum mampu menerapkan CPOE. Ditambah perlunya komitmen yang tinggi dari berbagai pihak termasuk struktural ataupun fungsional untuk menerapkan CPOE. Pihak fungsional sebagai pihak pelaksana dan pengguna membutuhkan waktu dan proses untuk dapat mengerti benar tentang cara penggunaan CPOE (6). Keterbatasan waktu para dokter (fungsional) dalam masa transisi kemudian menjadi kontributor masalah resistensi teknologi. Sementara dari pihak struktural perlu diyakinkan benar bahwa dengan penerapan CPOE, maka pelayanan yang diterima pasien akan menjadi lebih baik, sehingga nominal yang dikeluarkan akan sesuai dengan manfaat yang didapat. Kekurangan lainnya adalah karena instruksi pengobatan untuk pasien diberikan langsung melalui komputer, maka komunikasi langsung antara dokter dan perawat menjadi berkurang (7).

Akhirnya, implementasi CPOE dikembalikan kepada masing-masing rumah sakit untuk menerapkan atau tidak. Hal ini dikarenakan masih banyak hal lain yang dapat dilakukan untuk meningkatkan patient safety. Namun, alangkah lebih baiknya bila rumah sakit merencanakan program jangka panjang termasuk penerapan teknologi baru yang bermanfaat. (WP)

Referensi :

(1)   Cahyono, Suharjo B, 2008, Membangun Budaya Keselamatan Pasien Dalam Pratik Kedokteran, Kanisius, Jakarta

(2)   Edwadrs et al, 2008, Medication errors: the human factor. Canadian Medical Association Journal, disadur dari http://www.cmaj.ca/content/178/1/63.full

(3)   Hari Kusnanto dan Anis Fuad, 2013, Sepuluh Tahun Implmentasi Computerized Physivian order (CPOE) di Negara Berkembang, IKM FK UGM.

(4)   David et al, 2002, Reduction in medication errors in hospitals due to adoption of computerized provider order entry systems, Journal of the American Medical Informatics Association, disadur dari http://jamia.bmjjournals.com/content/10/2/115.short

(5)  Baron W, 2004, Improving the Quality and Safety of Care at Loyola University Health System, disadur dari http://virtualmentor.ama-assn.org/2004/03/pfor3-0403.html

(6) Leapfroggroup, 2007, Computerized Physician Order Entry, leapfrogroup.org, disadur dari http://www.leapfroggroup.org/for_hospitals/leapfrog_safety_practices/cpoe

(7)   Huda Nurul, 2011,. CPOE, An Analysis of Nursing Technology and Nursing Approach, Fakultas Ilmu Keperawatan, UI.

 

Sharing is caring!