Manajemen obat merupakan komponen yang penting dalam pengobatan paliatif, simtomatik, preventif, dan kuratif terhadap penyakit dan berbagai kondisi. Manajemen obat mencakup sistem dan proses yang digunakan rumah sakit sakit dalam memberikan farmakoterapi kepada pasien. Perlu upaya mutidisiplin dan terkoordinir dari para staf rumah sakit sakit, menerapkan prinsip rancang proses yang efektif, implementasi dan peningkatan terhadap seleksi, pengadaan, penyimpanan, pemesanan/peresepan, pencatatan (transcribe), pendistribusian, persiapan (preparing), penyaluran (dispensing), pemberian, pendokumentasian, dan pemantauan terapi obat. Peran para pemberi pelayanan kesehatan dalam manajemen obat sangat sentral guna  mencapai tujuan pengobatan dan sasaran keselamatan pasien.

Pasien RS yang mendapatkan terapi obat mempunyai risiko mengalami masalah terkait obat. Kompleksitas penyakit dan penggunaan obat, serta respons pasien yang sangat individual meningkatkan munculnya masalah terkait obat. Hal tersebut menyebabkan perlunya dilakukan PTO (pemantauan terapi obat) dalam praktek profesi untuk mengoptimalkan efek terapi dan meminimalkan efek yang tidak dikehendaki. Aspek ini merupakan bagian penting dalam standar akreditasi RS versi KARS 2012, khususnya dalam Bab MPO (Manajemen dan Penggunaan Obat).

Pemantauan terapi obat (PTO) adalah suatu proses yang mencakup kegiatan untuk memastikan terapi obat yang aman, efektif, dan rasional bagi pasien. Kegiatan tersebut mencakup pengkajian pilihan obat, dosis, cara pemberian obat, respon terapi, reaksi obat yang tidak dikehendaki (ROTD), serta rekomenasi atau alternatif terapi. PTO harus dilakukan secara berkesinambungan dan dievaluasi secara teratur pada periode tertentu agar keberhasilan ataupun kegagalan terapi dapat diketahui. PTO merupakan bagian dari tugas pokok dan fungsi pelayanan kefarmasian RS dalam Permenkes 1197/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit.

Kondisi pasien yang perlu dilakukan PTO antara lain:

  1. Pasien yang masuk rumah sakit dengan multi penyakit  sehingga menerima polifarmasi.
  2. Pasien kanker yang menerima terapi sitostatika.
  3. Pasien dengan gangguan fungsi organ terutama hati dan ginjal.
  4. Pasien geriatri dan pediatri.
  5. Pasien hamil dan menyusui.
  6. Pasien dengan perawatan intensif.
  7. Pasien yang menerima  regimen yang  kompleksPolifarmasi, Variasi rute pemberia , Variasi aturan pakai, Cara pemberian khusus (contoh: inhalasi, Drip intravena (bukan bolus), dsb.

Adapun pasien dikatakan menerima obat dengan risiko tinggi, yaitu bila menerima:

–    obat dengan indeks terapi sempit (contoh: Digoksin, fenitoin),

–    Obat yang bersifat nefrotoksik (contoh: gentamisin) dan hepatotoksik (contoh: OAT),

–    Sitostatika (contoh: metotreksat),

–    Antikoagulan (contoh: warfarin, heparin),

–    Obat yang sering menimbulkan ROTD (contoh: metoklopramid, AINS),

–    Obat kardiovaskular (contoh: nitrogliserin

Metode pelaksanaan PTO adalah dengan menggunakan kerangka S-O-A-P sebagai berikut.

S: Subjective

–     Data subyektif adalah gejala yang dikeluhkan oleh pasien.

–     Contoh : pusing, mual, nyeri, sesak nafas.

O : Objective

–     Data obyektif adalah tanda/gejala yang terukur oleh tenaga kesehatan. Tanda-tanda obyektif mencakup tanda vital (tekanan darah, suhu tubuh, denyut nadi, kecepatan pernafasan), hasil pemeriksaan laboratorium dan diagnostik.

A : Assessment

–     Berdasarkan data subyektif dan obyektif dilakukan analisis terkait obat.

P : Plans

–     Setelah dilakukan SOA maka langkah berikutnya adalah menyusun rencana yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan masalah.

Setelah data terkumpul, perlu dilakukan analisis untuk identifikasi adanya masalah terkait obat (Hepler dan Strand). Masalah yang dapat ditemukan antara lain sebagai berikut.

  1. Ada indikasi tetapi tidak di terapi :Pasien yang diagnosisnya telah ditegakkan dan membutuhkan terapi obat tetapi tidak diresepkan. Perlu diperhatikan bahwa tidak semua keluhan/gejala klinik harus diterapi dengan obat.
  2. Pemberian obat tanpa indikasi ,pasien mendapatkan obat yang tidak diperlukan.
  3. Pemilihan obat yang tidak tepat. Pasien mendapatkan obat yang bukan pilihan terbaik untuk kondisinya (bukan merupakan pilihan pertama, obat yang tidak cost effective, kontra indikasi
  4. Dosis terlalu tinggi
  5. Dosis terlalu rendah
  6. Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki (ROTD)
  7. Interaksi obat

Dalam PTO, petugas perlu memahami jenis-jenis efek samping obat sebagai berikut.

Efek samping yang dapat diperkirakan:

  • Aksi farmakologik yang berlebihan
  • Respons karena penghentian obat
  • Efek samping yang tidak berupa efek farmakologik utama

Efek samping yang tidk  dapat diperkirakan:

  • Reaksi alergi
  • Reaksi karena faktor genetik
  • Reaksi idiosinkratik

(MA)

Sumber:

Dirjen Bina Farmasi Komunitas dan Klinik, Depkes RI, 2009, Pedoman Pemantauan Terapi Obat.

Sutoto, 2012, Manajemen dan Penggunaan Obat & Pengelolaan Bahan Berbahaya Dalam Standar Akreditasi Versi KARS 2012.

 

Sharing is caring!