dr. Merita Arini, MMR

“Sesungguhnya Alloh mencintai orang yang apabila melakukan sesuatu, ia melakukannya dengan sebaik-baiknya.”  (HR. Baihaqi)

images (2)

Perusahaan manapun  termasuk rumah sakit menginginkan karyawan yang kompeten agar dapat mencapai tujuan organisasi. Kompetensi adalah karakteristik perilaku yang menggambarkan motif, konsep diri, nilai-nilai, pengetahuan, atau keahlian yang ditunjukkan oleh pekerja yang unggul ke dalam pekerjaannya. Di sisi yang lain, motif kerja bersama konsep diri dan nilai-nilai yang dianut individu maupun yang mendasari organisasi akan melahirkan sikap kerja. Dengan demikian, kompetensi menggambarkan kemampuan individu untuk melakukan pekerjaannya dengan hasil yang unggul.

Melihat pentingnya kompetensi karyawan tersebut, akan timbul pertanyaan, “Pengembangan kompetensi karyawan rumah sakit, kebutuhan karyawan atau rumah sakit?” Rumah sakit membutuhkan karyawan yang kompeten untuk mencapai tujuan organisasi maupun meningkatkan hasil produksi, dalam hal ini rumah sakit memproduksi jasa. Karyawan membutuhkan pengembangan kompetensi di samping tuntutan pekerjaan dan pemenuhan kebutuhan hidup (gaji/ upah), namun juga pemenuhan berbagai aspek kepuasan kerja termasuk peluang pengembangan karir dan kemampuan menjawab perkembangan zaman dan tuntutan konsumen. Oleh karena itu, rumah sakit bersama-sama karyawan memiliki tugas (tanggung jawab) untuk mengembangkan kompetensi karyawan. Rumah sakit bertanggung jawab menciptakan mekanisme dan sistem yang adil dalam hal pengembangan kompetensi karyawan secara berkesinambungan. Di sisi yang lain, karyawan harus secara sadar dan mawas diri melihat kekurangan diri beserta potensi serta kesempatan yang dapat ditempuh secara non-formal maupun formal kelembagaan dalam pengembangan kompetensi.

Seorang leader (direktur RS) harus merasa berkepentingan terhadap pengembangan kompetensi karyawannya. Sebagaimana termasuk dalam komponen manajemen strategik dalam framework Balanced Scorecard, rumah sakit harus dipandang secara utuh dalam 4 aspek (pengembangan SDM, keuangan, proses bisnis internal, dan customer). Kualitas SDM menjadi dasar suatu organisasi termasuk rumah sakit dapat bertahan dan berkembang dalam menjalankan proses bisnisnya yaitu memproduksi dan mengelola jasa pelayanan kesehatan.

Jenis kompetensi yang perlu diperhatikan dan dikembangkan RS meliputi seluruh aspek kehidupan individu yang menunjang kinerja staf. Jenis kompetensi secara garis besar dapat dibagi menjadi 2 komponen sebagai berikut.

  • Hard Competency

Kompetensi yang berkaitan dengan pengetahuan & keahlian teknis suatu pekerjaan. Misal: analisis laporan keuangan, keahlian melakukan appendiktomi, keahlian memasang infus, dll

  • Soft Competency

Kompetensi yang berkaitan dengan kemampuan untuk membangun hubungan dengan orang lain & mengelola pekerjaan. Misal: leadership, communication skill, dsb.

Selanjutnya, perlu diperhatikan dengan cara bagaimana kompetensi karyawan dapat dikembangkan. Terdapat banyak metode pengembangan kompetensi karyawan, baik formal maupun non-formal. Rumah sakit seringkali menganggap pelatihan/ training sebagai one stop solution atas kesenjangan kompetensi karyawannya. Di sisi yang lain, dapat kita lihat di lapangan bahwa pelatihan ternyata tidak selalu berhubungan langsung dengan peningkatan/ perbaikan kinerja secara terukur. Oleh karena itu, secara lebih mendalam rumah sakit perlu melakukan analisis kebutuhan pelatihan dan meninjau berbagai metode lain yang dapat dikembangkan guna meningkatkan kompetensi staf secara efektif dan efisien.

Referensi:
Apriano B, Jacop FA, 2013, Pedoman lengkap profesional SDM Indonesia, Penerbit PPM, Jakarta.