Model Kolaboratif Lama

Model Kolaboratif Lama

Pada saat ini isu utama rumah sakit adalah memiliki mutu pelayanan yang baik bagi pasien yang bertujuan kebaikan sebesar-besarnya bagi pasien. Di Indonesia, Angka Kematian Ibu (AKI) masih dan Angka Kematian Bayi (AKB) masih relatif tinggi. Berdasarkan SDKI 2012, AKI tercatat mencapai 359 per-100 ribu kelahiran hidup. Angka ini jauh melonjak dibanding hasil SDKI 2007 yang mencapai 228 per 100 ribu. Sebelumnya, pemerintah Indonesia bertekad akan menurunkan AKI hingga 108 per-100 ribu pada 2015 sesuai dengan target MDGs. Fakta yang ada, salah satu sebab AKI yang masih tinggi adalah adanya keterlambatan pasien emergensi masuk rumah sakit, baik karena terlambatnya pasien ke tempat pelayanan kesehatan atau keterlambatan rujukan pasien ke tingkat pelayanan kesehatan lebih tinggi.

Hal tersebut dimungkinkan dapat terjadi karena kolaborasi antara pelayanan kesehatan primer baik dokter pelayanan primer maupun bidan praktek swasta dengan rumah sakit kurang baik, sehingga diperlukan pembangunan hubungan yang baik antara pelayanan kesehatan primer dan rumah sakit dan juga perbaikan kompetensi tenaga kesehaatan tingkat pelayanan kesehatan primer, hal ini dipaparkan oleh dr. Joko Murdiyanto, Sp. An dalam RAKERNAS MPKU Ke-III yang diadakan 2-5 Mei 2014 di Yogyakarta.

Model Kolaboratif Baru

Model Kolaboratif Baru

Dalam pemberian wewenang di rumah sakit terdapat sebuah proses yang dinamakan kredensial yang akan menghasilkan kewenangan klinis. Dalam hal ini kewenangan klinis diberikan sesuai kompetensi yang dimiliki oleh tenaga kesehatan di rumah sakit. Kewenangan klinis yang diberikan kepada tenaga kesehatan rumah sakit harus diuji ulang secara berkala setiap 3 tahun sesuai dengan pedoman standar akreditasi rumah sakit yang ditetepkan oleh KARS dengan tujuan memberikan pelayanan klinis yang konsisten dan sesuai dengan kualifikasi. Dalam hal ini dr. Joko Murdiyanto Sp. An yang juga direktur RS PKU Yogyakarta ini memberikan usulan agar dokter umum juga dapat menjadi pendamping atau asisten dari dokter spesialis agar kompetensi yang dimiliki tetap sesuai dengan yang ditetapkan ataupun lebih baik. Hal ini dapat dijadikan salah satu kolaborasi yang baik di rumah sakit. Model kolaborasi yang baik yang dapat dilakukan oleh rumah sakit adalah model kolaborasi patient center. Model ini bertentangan dengan model kolaborasi lama di mana dalam model kolaborasi terdahulu berbagai tenaga kesehatan di rumah sakit bekerja masing-masing sesuai dengan kompertensinya tanpa adanya sinergi antar tenaga kesehatan. Dengan pendekatan ini, diharapkan outcome berupa patient safety dapat dicapai.

Dalam akhir presentasi nya dr. Joko Murdiyanto, Sp.An menyatakan bahwa diperlukan-nya peningkatan kapasitas dokter yang sistematis, terstruktur dan terukur  terutama dalam bidang kegawatdaruratan dan Layanan Maternal Neonatal dan sudah seharusnya rumah sakit memiliki Sub Komite Kredensial (Komite Medik) yang membuat Rincian Kewenangan Klinis bagi Dokter   di Rumah Sakit. (WP)