oleh: dr. Merita Arini, MMR.

images (2)

Clinical Pathways (CP), sebagaimana diketahui merupakan bagian penting dokumen dan tools dalam mewujudkan Good Clinical Governance di rumah sakit. Di Indonesia, dokumen ini juga menjadi salah satu syarat yang harus dipenuhi dalam Standar Akreditasi RS versi KARS 2012. Walaupun masih diperdebatkan, sebagaimana dimuat dalam The Cochrane Library 2010 (issue 7), CP berperan dalam meningkatkan kendali mutu dan kendali biaya di RS, seperti pemendekan Length of Stay, penurunan risiko terjadinya re-admisi, komplikasi serta kematian pasien, dan hospital cost secara keseluruhan.

Pertanyaan besar dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan di rumah sakit-rumah sakit di Indonesia adalah bagaimana agar CP dapat berperan secara optimal dalam kendali mutu dan kendali biaya di RS serta bukan hanya sekedar dokumen kertas yang menjadi prasyarat akreditasi. Kesuksesan penerapan CP di berbagai negara maju sekalipun masih menjadi PR besar yang perlu terus diteliti, termasuk di Inggris yang membidani lahirnya CP.

Dalam VFM Unit (NHS Wales) Project yang meneliti tentang Clinical Resource Utilitation Group pada bulan September 1995 hingga Maret 1997 di Inggris dengan melibatkan 700 orang staf klinis, manajerial, dan operasional memberikan rekomendasi terkait faktor kunci penentu kesuksesan implementasi CP. Faktor pertama dan utama yang harus diperhatikan adalah bahwa CP membutuhkan kesadaran dan komitmen dari seluruh pihak yang terkait. CP merupakan alat yang bersifat leader driven, sehingga yang paling mendasar adalah bagaimana pimpinan RS terlebih dahulu memiliki kesadaran dan komitmen tersebut sehingga dapat menyusun kebijakan strategis yang mendukung CP agar dapat berperan sebagai alat dalam manajemen perubahan, sebagai komponen integral dalam penyelenggaraan bisnis dan penjaminan mutu pelayanan RS, serta pilar tegaknya good clinical governance. Kesadaran, komitmen, dan peran manajer/ staf senior juga sangat penting dalam kesusksesan implementasi CP (Midleton & Roberts, 2000).

Masalah klasik yang menjadi hambatan dalam penerapan clinical pathway adalah sumber daya yang terbatas dan tingginya beban kerja di RS (Midleton & Roberts, 2000). Stephen (2007) dalam Midleton dan Robert (2000) menjelaskan bahwa fasilitator merupakan faktor kunci keberhasilan penerapan CP dalam situasi tersebut di atas. Di Indonesia, fasilitator sering disebut sebagai koordinator atau ketua tim yang bertugas mengkolaborasikan seluruh pemain kunci/ tim multidisiplin yang terlibat dalam suatu CP tertentu. Penentuan/ pemilihan fasilitator/ koordinator adalah salah satu langkah penting bahkan sejak dimulainya penyusunan CP. RS perlu memproyeksikan siapa-siapa saja yang dapat menjalankan peran sebagai fasilitator serta menyiapkan orang-orang tersebut guna menjalankan perannya.

Guna mencapai kesuksesan implementasi CP, fasilitator harus menjalankan peran-peran sebagai berikut.

–          Meningkatkan kesadaran seluruh stakeholder

–          Meyiapkan pelatihan pendahuluan, ongoing education dan dukungan yang dibutuhkan

–          Bertindak sebagai penghubung antar seluruh kelompok profesional yang terlibat

–          Set up dan mengelola proyek CP tertentu

–          Menghadiri dan memfasilitasi pengembangan CP dan pertemuan-pertemuan

–          Menyiapkan dokumen CP

–          Menyiapkan evaluasi, timbal balik, dan review.

Fasilitator tidaklah harus menjadi orang yang paling senior dan ahli dalam suatu diagnosis penyakit maupun tindakan yang menjadi topik CP. Peran pentingnya adalah menjalankan fungsi organisasi sebagai fasilitator yang juga berperan sebagai leader dan manajer tim. Mengingat beratnya peran tersebut, Stephen (1997) mengemukakan daftar skills  yang perlu dimiliki/ dikembangkan seorang fasilitator sebagai berikut.

–          Kemampuan presentasi dan melatih

–          Komunikasi dan negosiasi

–          Manajemen proyek/ manajemen perubahan

–          Team building & group facilitation

–          Kemampuan menggunakan komputer/ teknologi informasi

–          Kemampuan memotivasi dan memimpin

–          Kemampuan bekerja dengan deadline yang ketat dan di bawah tekanan

–          Memiliki pengetahuan yang cukup tentang CP dan hal-hal yang terkait

–          Memiliki kepercayaan diri, kredibilitas, dan self motivation

Dari sekian banyak tugas seorang fasilitator, tugas kuncinya adalah pada awareness session guna mengoptimalkan keterlibatan staf. Staf akan memiliki kesadaran dan komitmen apabila ia merasa dilibatkan dan memiliki peran penting serta merasa memiliki. Dalam awareness session, yang diperlukan adalah:

–          Tersedianya kesempatan bagi seluruh staf untuk mengungkapkan concerns dan seluruh pemikiran mereka dalam pendekatan CP

–          Sifat jujur, terbuka, serta peduli dalam menjawab seluruh pertanyaan dan kecemasan yang mungkin muncul akibat suatu perubahan

–          Meluruskan misconceptions tentang CP

–          Memungkinkan staf untuk menyalurkan/ mengemukakan frustasi atas berbagai pengalaman dalam merawat kelompok pasien tertentu serta mendiskusikan bagaimana CP dapat membantu mereka mengatasi/ meminimalisasi hal tersebut.

Semakin kuat rasa memiliki (ownership) para stakeholder akan semakin optimal implementasi CP. Rasa memiliki dan keterlibatan yang disproporsional merupakan salah satu faktor yang menyebabkan kegagalan implementasi CP di RS (Midleton & Roberts, 2000).

Sumber:

Midleton, Roberts, 2000, Integration clinical pathways: a practical approach to implementation, McGraw-Hill. USA.

Sharing is caring!