Rumah sakit merupakan pusat pelayanan kesehatan masyarakat yang bertujuan untuk menjaga kesehatan masyarakat dan merawat orang sakit. Untuk mewujudkan tujuan tersebut maka harus didukung oleh suatu peralatan sarana utilitas yang baik. Peralatan sarana utilitas dapat berfungsi dengan baik sesuai dengan umur kegunaannya jika diterapkan suatu prinsip manajemen pemeliharaan yang efektif dan efisien. Tetapi seiring dengan jalannya waktu terlihat bahwa upaya pemeliharaan rumah sakit ini terlihat masih belum memuaskan. Banyak peralatan sarana yang kurang berfungsi secara otomatis. Rumah sakit sebagai organisasi pelayanan kesehatan harus memperhatikan sumber air bersih dan daya listrik yang tidak terganggu dalam memenuhi kebutuhan perawatan pasien. Selain harus memperhatikan sarana utilitas yang lain seperti sarana pembuangan, ventilasi, gas medis, dan system utama lainnya secara berkala diinspeksi, dipelihara dan bila perlu ditingkatkan.

1. Kebutuhan air bersih

Jika didetailkan lebih jauh, maka kebutuhan air untuk rumah sakit dapat digolongkan sebagai berikut:

a)       Air bersih (Permenkes 416 tentang standard air bersih) untuk MCK dan kebutuhan umum

b)       Air lunak / soft water –> heat exchanger, mesin sterilisasi di CSSD, clarifier / air panas)

c)       Air Reverse Osmosis yang diaplikasikan untuk :

  • Air minum –> untuk instalasi gizi dan kantin / cafetaria
  • Unit Haemodialysa
  • steam generator di boiler dan alat CSSD
  • laboratorium, biasanya ditambahkan lagi deionizer untuk lebih memurnikannya

2. Kebutuhan Listrik di Rumah Sakit

Kegiatan dirumah sakit membutuhkan ketersediaan listrik yang kontinyu selama 24 jam selama asuhan pasien, baik yang terkait dengan peralatan yang bersentuhan langsung pada pasien seperti ventilator, infus pump, syring pump, alat monitor, maupun alat –alat yang tidak bersentuhan langsung secara kontinyu seperti peralatan diagnostik di radiologi seperti X-Ray, CT Scan, MRI, USG, cathlab, dan di laboratorium.

3. Kebutuhan Gas Medis

Gas medis yang dibutuhkan di rumah sakit adalah O2, N2 dan CO2. Ketersediaan gas-gas tersebut selama 24 jam dibutuhkan dalam Asuhan Pasien. Sehingga tidak boleh terjadi kekosongan gas tersebut. Monitoring volume dan instalasi gas ke seluruh ruangan sesuai dengan kebutuhan harus dilakukan untuk jaminan ketersediaan gas selama 24 jam.

4. Pengelolaan Air Limbah Rumah Sakit

Air limbah rumah sakit merupakan salah satu sumber pencemaran lingkungan yang sangat potensial. Oleh karena itu air limbah tersebut perlu diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke saluran umum. Masalah yang sering muncul dalam hal pengelolaan limbah rumah sakit adalah terbatasnya dana yang ada untuk membangun fasilitas pengolahan limbah serta operasinya, khususnya untuk rumah sakit tipe kecil dan menengah. Untuk mengatasi hal tersebut maka perlu dikembangkan teknologi pengolahan air limbah rumah sakit yang murah, mudah operasinya serta harganya terjangkau, khususnya untuk rumah sakit dengan kapasitas kecil sampai sedang. Selain itu perlu menyebar-luaskan informasi teknologi khususnya untuk pengolahan air limbah rumah sakit, sehingga dalam memilih teknologi pihak pengelola rumah sakit mendapatkan hasil yang optimal.

Di dalam pengelolaan air limbah rumah sakit, maka yang perlu diperhatikan adalah sistem saluran pembuangan air. Saluran air limbah dan saluran air hujan harus dibuat secara terpisah. Air limbah rumah sakit baik yang berasal dari buangan kamar mandi, air bekas ccucian, air buangan dapur serta air limbah klinis dikumpulkan ke bak kontrol dengan saluran atau pipa tertutup, selanjutnya dialirkan ke unit pengolahan air limbah. Setelah dilakukan pengolahan, air hasil olahannya dibuang ke saluran umum. Untuk air hujan dapat langsung dibuang kesaluran umum melalui saluran terbuka.

Terdapat dua kriteria pemeliharaan  dalam pemeliharaan peralatan yaitu pemeliharaan terencana dan pemeliharaan tidak terencana, seperti terlihat  pada bagan kriteria pemeliharaan. Pemeliharaan terencana adalah kegiatan pemeliharaan yang dilaksanakan terhadap alat sesuai dengan jadwal yang telah disusun. Pemeliharaan terencana meliputi pemeliharaan preventif / pencegahan dan pemeliharaan korektif / perbaikan. Pemeliharaan tidak terencana adalah kegiatan pemeliharaan yang bersifat darurat berupa perbaikan terhadap kerusakan alat yang tidak terduga dan harus segera dilaksanakan mengingat alat sangat dibutuhkan dalam pelayanan. Pemeliharaan tidak terencana dapat ditekan serendah mungkin apabila pihak rumah sakit membuat jadwal kegiatan pemeliharaan terencana dan disiplin melaksanakan kegiatan tersebut. Pelaksanaan pengujian dan kalibrasi alat kesehatan, termasuk pemeliharaan terencana yaitu pemeliharaan preventif, pada saat inspection (Depkes 2001).

Pemeliharaan Preventif ini meliputi :

  1. Pemantauan fungsi (inspection maintenance).
    1. Dilihat (Visual inspection)
    2. Didengar (Hearing inspection)
    3. Ditulis pada checklist
    4. Difahami ditindaklanjuti
    5. Pemeliharaan berkala (preventive maintenance)
      1. Pembersihan (Cleaning) : Interior dan eksterior
      2. Pelumasan (Lubricating)
      3. Pengaturan (Adjusting) ;Mekanik, elektronik
      4. Penggantian part (Replacing)
      5. Pengencangan (Tightening)
    6. Kalibrasi/ verifikasi (calibration) & Safety test
      1. Kalibrasi legal (BPFK)
      2. Kalibrasi internal/ Verifikasi (Teknisi lokal)
      3. Safety test (BPFK/ Teknisi lokal)

Dalam Kepmenkes No. 004 tahun 2003 tentang kebijakan dan strategi desentralisasi bidang kesehatan disebutkan salah satu tujuan strategis adalah upaya penataan manajemen kesehatan di era desentralisasi. Salah satu langkah kunci dalam tujuan tersebut adalah mengembangkan sub sistem pemeliharaan dan optimalisasi pemanfaatan sarana dan alat kesehatan. Dan dalam langkah kunci 28 Kepmenkes tersebut di atas dinyatakan bahwa keberhasilan penyelenggaraan pelayanan kesehatan di rumah sakit atau fasilitas pelayanan dapat tercapai bila tersedia biaya operasional dan pemeliharaan sarana dan alat kesehatan yang memadai dan untuk itu haruslah disusun petunjuk teknis dan standart operational procedure (SOP) tentang pemeliharaan dan optimalisasi pemanfaatan sarana rumah sakit dan alat kesehatan. (Depkes RI, 2003)

Peningkatan efisiensi dan efektifitas tersebut dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain adanya suatu guideline atau Standart Operational Procedure (SOP) dalam pemeliharan dan pemanfaatan sarana kesehatan dan alat kesehatan, kalibrasi dan pemeliharaan rutin, pelatihan tehnisi dan operator alat, sosialisasi SOP pada seluruh unit pemakai sarana dan alat kesehatan di rumah sakit yang bersangkutan serta tersedianya suku cadang. Perencanaan pengadaan sarana dan alat kesehatan yang matang sesuai kebutuhan baik dari sisi provider maupun konsumen akan meningkatkan pemanfaatan secara optimal.

Untuk itu dalam rangka mendukung pelaksanaan Kepmenkes 004 tahun 2003, perlu dilakukan suatu kajian tentang pemeliharan dan pemanfaatan sarana dan alat kesehatan.

Oleh: Bianda Adeti Patriajaya – 20141030047

Sharing is caring!