Yogyakarta (8 Maret 2014) – Seminar nasional yang diselenggarakan dalam rangka dies natalis FK UGM ini, patut dijadikan referensi dalam rangka pengembangan ilmu manajemen Rumah Sakit terutama terkait Program Peencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI). Dalam seminar ini diketengahkan hasil-hasil penelitian terbaru terkait resistensi antibiotik dan pentingnya penggunaan antibiotik rasional.

sumber: Isbandrio, 2014

sumber gambar: Isbandrio, 2014

Membuka materi ilmiah, Prof. Kuntaman, MS., Sp.MK (K) – Guru Besar FK Unair, menerangkan bahwa resistensi antibiotik telah menjadi masalah global, sementara produksi antibiotik jenis baru lambat bertambah. Resistensi mikroba terhadap first line antibiotic telah mencapai hampir 100 % dan terus meningkat terhadap antimikroba second line. Masalah ini disebabkan oleh faktor alam (mutasi dan transfer gen) serta selection pressure yang merupakan faktor utama penyumbang resistensi mikroba akibat penggunaan antibiotik yang irrasional baik di RS maupun komunitas dan rendahnya kepatuhan terhadap universal/ standard precaution. Profesor yang kini terlibat dalam WHO Project terkait The Containment Program for Anti-Microbial Resistance di Indonesia ini, mengangkat pentingnya PPRA (Program Pengendalian Resistensi Antibiotik) terutama di Rumah Sakit. PPRA memiliki 4 pilar utama, yaitu pentingnya peran clinical microbiologist, farmasi, pengendalian infeksi, dan SKFT. PPRA efektif terbukti menurunkan biaya belanja antibiotik dan meningkatkan patient safety.

Pemateri lain, seperti dr. Bambang Isbandrio, Sp.MK, dr. Abu Tholib, M.Sc., Ph.D., dan dr. Tri Wibawa, Sp.MK, Ph.D. memaparkan pula tentang pentingnya pengendalian resistensi antibiotik melalui penerapan pengendalian infeksi dan antibiotic stewardship. Penggunaan antibiotik yang rasional tidak bisa terlepas dari peran penting mikrobilogis klinik yang tidak hanya bekerja di ranah labolatoris, namun juga mendukung peran klinisi dalam terapi pasien infeksi. Peran kultur mikroba sebelum terapi infeksi mutlak diperlukan, di samping terapi empiris yang dilakukan. Dalam kultur mikroba, kini didukung oleh kemajuan teknologi sehingga tidak lagi menyita waktu lama dan dapat mendeteksi lebih banyak jenis mikroba dan sensitifitasnya. Terapi empiris membutuhkan SPM dan peta medan antibiotik yang up to date. Hal ini penting dilakukan mengingat resistensi antibiotik menyebabkan gagalnya terapi yang pada akhirnya dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas pasien, pemanjangan lama rawat,  dan peningkatan biaya.

Prof. dr. Ngatidjan, M.Sc., Sp.FK (K) memberikan refreshing materi tentang farmakokinetik dan farmakodinamik antibiotik. Pemahaman tenaga kesehatan, khususnya klinisi mengenai kedua unsur ini penting dalam rangka meningkatkan penggunaan antibiotik rasional dan efektif. Hal ini didukung oleh dr. Rizka H. Asdie, Sp.PD-KPTI yang memaparkan tentang perlunya pertimbangan klinis yang tepat dalam penggunaan antibiotik.

dr. Indah Kartika Murni, Sp.A. (K), Ph.D. pada sesi terakhir memaparkan materi tentang penggunaan antibiotik di bidang pediatrik. Seperti halnya di bagian lain di rumah sakit, departemen anak juga tidak luput dari penggunaan antibiotik irrasional dan Healthcare Associated Infections (HAIs), khususnya di perawatan intensif. Dipaparkan juga hasil penelitian yang dilakukannya di Departemen Anak RSUP Dr. Sardjito, di mana intervensi infection control dan antibiotic stewardship melalui kegiatan kuliah, pelatihan, outreach visit, reminder, audit dan performance feedback dapat menurunkan penggunaan antibiotik yang irrasional dan HAI’s(MA)