Safety System

04/10/2017 oleh : mmr

Sebagian besar pelayanan kesehatan menerapkan safety secara reaktif. yaitu hanya merespon ketika telah terjadi cedera. Walaupun sudah dikenal sejak lama, implementasi safety dalam pelayanan kesehatan tidak prioritas utama. Keberadaan safety system berorientasi pasien di sakit menjadi sebuah kebutuhan. Safety systems bertujuan mencegah pada pasien, keluarga pasien, para tenaga kesehatan dan semua yang terlibat di dalamnya. Sistem disini yaitu proses pelayanan dan budaya di rumah sakit itu sendiri (Kohn et al, 2000; Pronovost et al, 2003).

Dalam safety system, adverse events yang menyebabkan cedera serius bahkan kematian harus dievaluasi dan ditinjau ulang untuk mengetahui perbaikan apa dan dimana dari sistem yang ada untuk mencegah kejadian serupa. Sedangkan error yang tidak menyebabkan cedera, dapat sebagai patokan untuk melakukan perbaikan dalam sistem untuk mencegah terjadinya adverse event. Safety sendiri merupakan salah satu aspek mutu, dimana Rumah sakit tidak hanya mencegah terjadinya cedera namun juga memberikan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan pasien. Safety juga berarti meningkatkan kepercayaan pasien dan masyarakat terhadap rumah sakit (Kohn et al, 2000).

Error dapat disebabkan berbagai hal yang berasal dari level pemerintahan, sistem ataupun fasilitas RS, saat intervensi praktisi kepada pasien. Berdasar 9 Life Savings Patient safety Solutions (2007) yang diterbitkan WHO, solusi untuk permasalahan safety akan ditujukan pada level intervensi praktisi kepada pasien. Solusi ini bertujuan mendisain proses pelayanan, menciptakan lingkungan dan support system yang dapat meminimalisir risiko dan mencegah terjadinya error. Perubahan perlu dilakukan segera pada praktisi klinis yang berhadapan dengan pasien, meliputi perubahan nilai, kepercayaan dan perilaku (WHO Collaborating Centre for Patient safety Solutions, 2007). Hal pertama yang harus dilakukan untuk membangun safety system adalah mengetahui tingkat pemahaman mengenai patient safety yang terwujud dalam sikap terhadap nilai dan kepercayaan mengenai patient safety, dan nantinya akan menjadi dasar untuk quality improvement rumah sakit menyangkut patient safety. Terutama pada praktisi klinis yang langsung berpengaruh dengan pasien (Nieva & Sorra, 2003). Di lingkup organisasi layanan kesehatan,  penelitian tentang keselamatan pasien adalah suatu area penelitian yang sedang tumbuh pesat untuk menguji bagaimana nilai, sikap, persepsi, kompetensi individu dan perilaku orang dan kelompok menentukan komitmen, cara dan keahlian organisasi  dalam manajemen kesehatan dan keselamatan (Handler et al., 2006). Survey budaya/iklim keselamatan sudah menjadi pendekatan yang umum untuk memonitoring KP, dan berbagai jenis instrumen pengukurannya terus mengalami pengembangan (Matsubara et al., 2008).

 

Referensi:

Kohn, L T., Corrigan, J. M., & Donaldson, M. S. 2000. To Err is Human : Building a Safer Health System. National Academy Press.

Matsubara, S., Hagihara, A., &Nobutomo, K. 2008. Development of a patient climate scale in Japan. International Journal of Quality in Health Care, Vol. 20, Number 3: 211-220.

Nieva, V., & Sorra, J. 2003. safety culture assessment: a tool for improving patient safety in healthcare organizations. Qual Saf Health Care, ii17-ii23. Available from http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1765782/ [accessed 29 Maret 2010]

Pronovost, P. J., Weast, B., Holzmueller, C. G., Rosenstein, B. J.,
Kidwell, R. P., Haller, K. B., et al. (2003). Evaluation of the culture of safety:
survey of clinicians and managers in an academic medical center, qual saf
health care
, 401-410. Available from: http://qshc.bmj.com/cg i/pmidlookup?view=long&pmid=14645754 >            [accessed 28 March 2010 ]

WHO Collaborating Centre for Patient safety Solutions. 2007. Patient
Safety Solutions-May 2007. Patient safety Solutions. Available from:
http://www.ccforpatientsafety.org/Patient-Safety-Solutions/ [Accessed 16 April
2010]

_Qurratul Aini-