MMR UMY bersama RSU Muhammadiyah Metro Lampung telah mengadakan Seminar Nasional dan Workshop dengan tema “Preventing and Controlling of Emerging Infectious Disease in Healthcare” pada hari Sabtu, 8 Maret 2014 di Ballroom Hotel Novotel Bandar Lampung. Seminar ini dihadiri oleh sekitar 100 orang dokter dan perawat dari seluruh Provinsi Lampung dan sekitarnya.

sumber gambar: combined.nhs.uk

sumber gambar: combined.nhs.uk

Membuka materi seminar, Costy Pandjaitan CVRN, SKM, MARS memaparkan bahwa HAIs (HealthcareAssociated Infections) atau yang dahulu dikenal dengan infeksi nosokomial merupakan permasalahan global. Menurut data WHO, insiden kejadian HAIs di dunia sebesar 3 hingga 21 % dengan rerata 9%, sedangkan di Indonesia kejadian  HAIs yang didapat hanya sebesar 0 – 1 % melalui surveilans pasif saja. Seperti halnya fenomena  gunung es, angka tersebut belum mencerminkan kejadian sebenarnya di Indonesia akibat kurangnya pelaporan kejadian HAIs.

Terjadi perubahan konsep Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI). Ketua Himpunan Perawat Pengendalian Infeksi Indonesia ini menjelaskan, “Terjadi pergesaran mengenai rentang waktu terjadinya HAIs yaitu semula kejadian HAIs dihitung apabila gejala infeksi yang semula tidak didapatkan pada present on admission (POA), timbul lebih dari 72 jam, batasan waktu yang ditetapkan kini menjadi lebih dari 48 jam admisi bahkan sampai setelah pasien dipulangkan ke rumah. Konsep lain yang berubah antara lain universal precaution (kewaspaan universal) sebagai sebuah pendekatan pengendalian infeksi yang berfokus pada darah dan cairan tubuh manusia yang terinfeksi, kini berubah menjadi standard precaution yaitu kewaspadaan standar yang berlaku untuk semua cairan tubuh (sekret, darah, ekskret kecuali keringat,  kulit yang tidak utuh, dan selaput lendir terlepas dari apakah terinfeksi atau tidak terinfeksi).”

“Kejadian HAIs  yang didapatkan selama tindakan sebesar 21,5%  dan sisanya sebesar 78,5% didapat setelah tindakan (recapping, melepas jarum/ scalpel, penempatan jarum). Kecelakaan luka tusuk benda tajam sangat berisiko terhadap infeksi blood borne (HIV, HBV, HCV), sehingga perlakuan terhadap benda tajam harus dilaksanakan sesuai prosedur yang sudah ditetapkan. Kecelakaan luka tusuk limbah benda tajam harus segera dilaporkan dan ditindaklanjuti,” ungkap ahli PPI yang juga bekerja Rumah Sakit Harapan Kita ini.

 Selain itu, Costy juga menekankan bahwa untuk surveilans PPI harus dilakukan oleh personil yang ditunjuk sebagai IPCP (Infection Prevention Control Practicioner/ Profesional) yang terdiri dari tiga penanggung jawab yang berbeda yaitu IPCD (Infection Prevention and Control Doctor), IPCN (Infection  Prevention  and  Control Nurse),  IPCLN (Infection Prevention and Control Link Nurse). Surveillans harus dievaluasi oleh IPCP.

Materi selanjutnya disampaikan oleh dr. Djoti Atmojo, Sp. A., MARS yang menjelaskan bahwa dalam upaya peningkatan mutu pelayanan maka  rumah sakit wajib dilakukan akreditasi secara berkala, minimal tiga tahun sekali. Akreditasi rumah sakit dilakukan oleh lembaga independen baik dari dalam maupun dari luar negeri berdasarkan standar akreditasi yang berlaku.

Fokus akreditasi KARS yang mengadopsi dari JCI, mengelompokan item penilaian menjadi empat kelompok yaitu kelompok standar pelayanan berfokus pada pasien, kelompok standar manajemen RS , sasaran keselamatan pasien, dan sasaran program MDG’S, di mana PPI masuk dalam kelompok standar manajemen RS. Oleh karena itu, rumah sakit harus menjalankan program PPI dengan baik agar mutu pelayanan meningkat. Demikian papar dr. Djoti Atmojo yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua KARS.

dr. Arlina M,kes, AAK. mengangkat pentingnya cost saving dalam PPI yaitu dengan memperkenalkan local production alkohol. Bahan yang digunakansebgai pengganti cuci tangan (handrub) ini dibuat dengan menggunakan formula WHO yang dapat dilihat di http://www.who.int/gpsc/5may/Guide_to_Local_Production.pdf.  Satu liter alkohol produksi lokal akan menghabiskan biaya sebesar Rp. 30.000,00. Maka, dibandingkan membeli 1 liter produk handrub yang dapat menghabiskan biaya sebesar Rp. 150.000,00, dapat menghemat hingga 5 kali lipatnya. Selain efisiensi, perlu diterapkannya beberapa strategi untuk meningkatkan kepatuhan staf, di antaranya yaitu alkohol dikemas dalam pocket size (dikaitkan di kantong/ saku staf), diletakkan di bed patient dengan intruksi yang jelas agar tidak disalahgunakan oleh pasien dan pengunjung, menggunakan alat bantu visual video saat training education, letakkan reminder berupa poster yang diempel disetiap tempat, melakukan audit secara teratur dan memberikan feedback-an kepada unit terkait. Demikian dijelaskan oleh kandidat Doktor bidang Pembiayaan Kesehatan yang kini aktif sebagai di MMR UMY.

Pemateri terakhir, yaitu Dr. Elsye Maria Rosa, M.Kep menerangkan bahwa Surveillans HAIs  adalah suatu tidakan sistematik dalam menelusur, mengumpulkan, menganalisis, dan mengintepretasi data yang nantinya berguna untuk merencanakan, menerapkan, dan mengevaluasi program PPI. Tujuan surveillans yaitu untuk menrunkan resiko terjadinya infeksi nosokomial. Hasil data yang didapat, sebisa mungkin dipaparkan dengan gamblang agar tujuan dari surveillans dapat tercapai, cara-cara yang dapat ditempuh yaitu dengan memnyajikan data berupa grafik garis, grafik batang, dan diagram.

Dr. Elsye menjelaskan metode surveillans HAIs yang dapat digunakan, yaitu metode surveilans berdasarkan cara melaksanakan surveillans (survey pasif dan survey aktif)  dan metode surveillans berdasarkan waktu pelaksanaan surveillans (survey berkala,  survey per-bagian yang berlangsung terus-menerus, sertasurvey yang dilaksanakan pada saat tertentu/ point surveillance).

Di akhir sesi Dr. Elsye yang juga aktif sebgai IPCN  berpesan, “Agar berjalan dengan baik, maka PPI berfokus pada beberapa hal yaitu program-program PPI, struktur organisasi PPI, komite PPI, dan ketiganya harus terkoordinir dengan baik”. (EV)