Asap Kebakaran di RS PKU Kotagede

Asap Kebakaran di RS PKU Muhammadiyah Kotagede

Kotagede – Suara ledakan yang keras tiba-tiba terdengar dan mengagetkan sejumlah pasien dan karyawan, kemudian disusul oleh gumpalan asap yang cukup tebal. Kebakaran terjadi di Instalasi Gizi yang disebabkan oleh ledakan gas LPG. Tim siaga kebakaran RS yaitu petugas satpam dan IPSRS segera berusaha memadamkan api dengan fasilitas yang ada sembari menunggu bantuan Tim PBK (Penanggulangan Bencana Kebakaran) Kota Yogyakarta. Ledakan ini mengakibatkan satu orang tewas dan tiga orang korban luka bakar. Korban dengan segera dibawa ke IGD RS PKU Kotagede guna mendapatkan perwatan lanjutan. Api semakin membesar dan menjalar ke ruangan disekitar intsalasi gizi yaitu bangsal nifas dan bangsal rawat inap sehingga direktur RS menerapkan tanggap darurat. Pasien yang berada di kedua ruang tersebut  dievakuasi menuju titik aman dan dilakukan triase terhadap korban yang nantinya akan mendapat perawatan semestinya. Setelah api dipadamkan oleh masyarakat dan tim PBK, maka direktur mencabut status darurat dan dinyatakan aman. Begitulah simulasi kebakaran yang diadakan oleh MMR UMY di RS PKU Muhammadiyah  Kotagede Yogyakarta, Sabtu (2/5).

Sebelum simulasi dilakukan, RS PKU Kotagede dilatih oleh tim MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center) di bawah koordinasi Budi Santoso, M.Psi menjadi RS Siaga Bencana. Dalam pelatihan tersebut dibentuk Tim Komando Siaga Bencana dan disiapkan peraturan-peraturan yang mesti dimiliki RS sebagai RS siaga bencana. “Dalam waktu yang cukup singkat yaitu kira-kira satu bulan pelatihan, RS PKU Kotagede mampu melakukan simulasi dengan baik serta merumuskan dan menguji dokumen. Hal ini tidak luput dari dukungan pihak direksi dan manajemen RS,“ ujar Budi Santosa yang dalam kesehariannya kini juga menjabat sebagai salah seorang Wakil Direktur di RS PKU Muhammadiyah Bantul.

Penatalaksanaan Korban Kebakaran dalam Simulasi

Penatalaksanaan Korban Kebakaran dalam Simulasi

Sebagai pusat studi manajemen rumah sakit, MMR dalam mengadakan program pendidikan terus membenahi diri dari waktu ke waktu. Selain memberi ilmu di ruang perkuliahan, MMR juga telah memberi contoh nyata dengan praktik lapangan berupa simulasi untuk beberapa program RS salah satunya dalam mempersiapkan  RS Siaga Bencana. Kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap tahun di berbagai RS Muhammadiyah/ ‘Aisyah sekaligus sebagai bentuk transfer knowledge dari MMR dan MDMC kepada amal usaha kesehatan Muhammadiyah. Pada tahun ajaran sebelumnya juga diselenggarakan kegiatan serupa di RS PKU Muhammadiyah Bantul dengan kecelakaan massal sebagai skenario simulasi. Kali ini, manajemen kebakaran dipilih mengingat jenis bencana ini selain dapat terjadi kapan saja dan di mana saja, namun juga merupakan salah satu item penilaian dalam akreditasi RS versi KARS 2012.

Acara yang dimulai sejak pukul 8 pagi tersebut menjadi rangkaian dari kegiatan akademik Mata Kuliah Manajemen Bencana dan Gawat Darurat yang sekarang menjadi salah satu mata kuliah pilihan (elektif) di MMR. Beberapa materi penanggulangan bencana di RS secara umum juga disampaikan kepada peserta sebelum simulasi bencana kebakaran dilaksanakan. “Diharapkan ilmu yang didapat ini bisa didesiminasi di tempat mahasiswa bekerja sekarang atau pun menjadi bekal bagi mahasiswa yang belum bekerja,” cetus Budi Santoso.

Sebanyak 42 mahasiswa memilih mengikuti kegiatan ini dari 3 jenis mata kuliah elektif yang diselenggarakan MMR. “Simulasi kebakaran ini telah menggambarkan dengan detail apa saja yang perlu disiapakan sebagai Rumah Sakit Siaga Bencana dan tindakan-tindakan yang harus dilakukan saat terjadi kebakaran. Dalam simulasi ini digambarkan pentingnya sistem komando agar tidak terjadi kesimpangsiuran informasi dan tidak terkoordinasinya penanggulangan sehingga yang akan memperlama penanganan,“ ungkap Firda, S.Ked. mahasiswa MMR UMY yang merupakan salah satu peserta dalam simulasi kebakaran tersebut.

Untuk mengukur  tingkat pemahaman Mahasiswa perlu adanya indikator yang dapat menilai seberapa besar simulasi berdampak kepada mahasiswa. “Nantinya akan dibuat tools untuk mengukur  tingkat pemahaman siswa, yaitu berupa lembaran checklist dalam menilai kesesuian simulasi dengan teori yang sebenarnya,” tutup Budi Santosa. (EV)

 

Sharing is caring!