Student Exchange: Credit Transfer Blok Elektif Sistem Casemix

Di International Training Center for Diagnose and Clinical Coding (ITCC)

Faculty Medicine, Universiti Kebangsaan malaysia

Oleh Nur Hidyah

Sejak tahun 2016 Magister Manajemen Rumah Sakit, Program Pascasarjana, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (MMR UMY) menawarkan blok elektif Sistem Casemix. Hal tersebut didasari pemikiran bahwa lulusan MMR UMY yang diharapkan mampu menjadi manajer profesional dan leader yang berjiwa wira usaha (entepreuneurs) yang peka terhadap perubahan lingkungan rumah sakit, baik lingkungan nasional maupun lingkungan global, termasuk perubahan lingkungan kebijakan. Kebijakan yang paling signifikan berpengaruh terhadap manajemen perumahsakitan adalah kebijakan tentang Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Sejak tahun 2004 di Indonesia telah ditetapkan UU No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (UU SJSN). Hal tersebut untuk mewujudkan pesan UUD tahun 1945 Pasal 28 c yang menyatakan bahwa setiap orang berhak mendapatkan jaminan sosial. UUD tahun 1945 Pasal 34 ayat 2 bahwa negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat. Selain itu juga untuk mewujudkan Konvensi ILO 102 tahun 1952, tentang standar minimal jaminan sosial di antaranya adalah jaminan kesehatan. Berarti cita-cita untuk negara untuk mengembangkan jaminan sosial baru akan diwujudkan setelah 69 tahun dengan UU SJSN.  Pada tahun 2011 ditetapkan UU No. 24  Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (UU BPJS), dan 1 Januari 2014 Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) mulai diberlakukan di seluruh Indonesia.

Untuk melaksanakan Sistem JKN, perlu ada kerjasama antara BPJS yang merupakan satu-satunya badan penyelenggara jaminan sosial nasional yang mengelola dana yang terhimpun dari peserta JKN, rumah sakit sebagai institusi yang menyediakan fasilitas kesehatan tingkat lanjut (FKTL), dan masyarakat sebagai peserta JKN. Masing-masing pihak mempunyai hak dan kewajiban yang dilindingi oleh UU dan peraturan pelaksanaan UU. Jika terjadi pelanggaran hak dan kewajiban dari salah satu pihak maka akan terjadi gangguan keseimbangan nilai sehingga ada pihak-pihak yang dilanggar haknya/dirugikan. Sebagai contoh, peserta JKN setelah mendapatkan pelayanan kesehatan, tidak lagi membayar iuran atau membayar iurannya ditunda-tunda. Apabila banyak peserta tidak membayar iuran, maka dana yang terhimpun di BPJS akan berkurang, sementara BPJS harus membayar klaim dari rumah sakit dan kapitasi untuk Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP), dari dana yang dihimpun dari peserta JKN. Ketika rumah sakit melakukan kesalahan dalam pengkodean, sehingga tarif yang keluar kurang dari yang seharusnya, maka rumah sakit mengalami kerugian, sebaliknya apabila melebihi tarif dari yang seharusnya maka klaim ke BPJS akan ditolak, maka proses klaim menjadi terganggu dan pembayaran menjadi tertunda sampai klaim dinyatakan benar oleh verivikator. Saat rumah sakit sebagai FKTL mempunyai fasilitas yang kurang memadahi dan manajemen pelayanan kesehatan yang buruk, maka pelayanan terhadap pasien tidak memuaskan, dan pasien dirugikan. Oleh karena itu perlu adanya keseimbangan nilai antara pemenuhan hak dan pelaksanaan kewajiban dari masing-masing pihak yang terkait sehingga terjadi hubungan yang harmonis.

Sistem pelayanan kesehatan menggunakan sistem casemix, yaitu “pengelompokan diagnosis dan prosedur dengan mengacu pada ciri klinis yang mirip/sama dan penggunaan sumber daya/biaya perawatan yang mirip/sama, pengelompokan dilakukan dengan menggunakan software grouper” (Peraturan Menteri Kesehatan No. 27 tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis INA CBGs). Sistem casemix pertama kali dikembangkan di Indonesia pada Tahun 2006 dengan nama INA-DRG (Indonesia- Diagnosis Related Group). Pada tanggal 31 September 2010  dilakukan perubahan nomenklatur dari INA-DRG (Indonesia Diagnosis Related Group) menjadi INA-CBG (Indonesia Case Based Group) seiring dengan perubahan grouper dari 3M  Grouper ke UNU (United Nation University) Grouper. Dengan demikian, sejak bulan Oktober 2010 sampai Desember 2013, pembayaran kepada Pemberi Pelayanan Kesehatan (PPK) Lanjutan dalam Jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas) menggunakan INA-CBG. Sejak diimplementasikannya sistem casemix di Indonesia telah dihasilkan 3 kali perubahan besaran tarif, yaitu tarif INA-DRG Tahun 2008, tarif INA-CBG Tahun 2013 dan tarif INA-CBG Tahun 2014. INA CBG (Indonesia Case Base Group) adalah sistem caemix yang khusus dikembangkan oleh United Nations University-International Institute for Global Health (UNU-IIGH), bagi Kementerian Republik Indonesia. UNU-IIGH adalah pusat penelitian dan pelatihan dari UNU, salah satu lembaga di bawah naungan PBB (United Nations).[1]

Dalam rangka memberikan bekal keilmuan dan praktik kepada mahasiswa MMR UMY yang mengikuti Blok Eletif Sistem Casemix, pada tanggal 1-3 Mei 2017, peserta Blok Eletif Sistem Casemix belajar langsung ke Pencipta Sofware Grouper dan para ahli sistem casemix di International Traing Center For Diagnose and Procedur (ITCC), Faculty of Medicine, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Mereka mendapatkan materi tentang sistem casemix dari Prof. Dr. Syed Mohamed Al Junid, Prof. Dr. Sharifa Ezat Wan Puteh, Associate Prof. Dr. Amrizal M. Nur, dan Dr. Syed Abdul Mutalib Al Junid selama tiga hari mulai jam 08.00 – 18.30. Berbagai pertanyaan mengenai berbagai pengalaman mereka selama bekerja di rumah sakit terkait dengan pelaksanaan JKN memperoleh jawaban yang memuaskan. Mereka juga dilatih untuk mengerjakan soal-soal terkait dengan coding INA-CBG’s, costing, pemanfaatan dan analisis data. Pada hari ke empat tanggal 4 Mei 2017 mereka refreshing dengan mengikuti city tour di Kuala Lumpur.

Sejak tahun 2016, Sistem Casemix selain untuk program Blok Elektif, juga program internasionalisasi. Pada 11-13 Mei 2016, Blok Elektif Sistem Casemix mendatangkan dosen tamu dari ITCC-UKM sebagai visiting Profesor/Lecture yang perkuliahannya dihadiri oleh 31 peserta, dan kuliah umum dari Prof. Dr. Syed Mohamed Al Junid dan Dr. Amrizal M Nur, pada tanggal 1-3 Mei 2017, program internasionalnya adalah exchange student: transfer kredit  2 sks, 24 jam pertemuan, ditambah tugas terstruktur, diikuti oleh 11 orang Kelas Non Reguler 13 B. Harapan selanjutnya adalah makin kuatnya hubungan kerjasama antara ITCC-UKM dengan MMR UMY sehingga kedua belah pihak mendapatkan nilai (values) yang tinggi sebagai outcome dari kerjasama tersebut.

[1] Aljunid, Syed Mohamed, et al. 2014. Sistem Casemix Untuk Pemula: Konsep dan Aplikasi Untuk Negara Berkembanga (Penerapan di Indonesia), Penerjemah Eko Prasetyo, Malaysia: Pusat Antar Bangsa Casemix dan Pengkodean Klinikal UKM

Sharing is caring!