oleh: dr. Windi Pertiwi, MMR

Menurut Undang Undang No 44 tahun 2009  tentang Rumah Sakit pada pasal 33, disebutkan bahwa setiap rumah sakit harus memiliki organisasi yang efektif, efisien dan akuntabel. Selanjutnya, dalam  pasal 34, disebutkan bahwa kepala rumah sakit haruslah  seorang tenaga medis yang mempunyai kemampuan dan keahlian di bidang perumahsakitan. Seiring perkembangan zaman, maka kepala/ direktur rumah sakit harus dapat menghadapi berbagai tantangan yang muncul agar dapat menyelenggarakan tata kelola rumah sakit dan tata kelola klinis (good governance) rumah sakit yang baik sesuai dengan pasal 36. Hal ini disampaikan oleh dr. Djony Darmadjaja, Sp.B, MARS, FINACS, FICS dalam kuliah perdana MMR UMY angkatan 10.

"Good Governance" sumber gambar: www.gdrc.org

“Good Governance”
sumber gambar: www.gdrc.org

Beliau menyampaikan bahwa saat ini tantangan yang dihadapi oleh pemimpin rumah sakit dapat berasal dari luar organisasi bahkan dari dalam organisasi itu sendiri. Tantangan pemimpin rumah sakit dari luar organisasi dapat beraal dari changing environment, innovation, dan competition. Perubahan lingkungan adalah tantangan yang paling besar dihadapi oleh pemimpin rumah sakit. Dokter spesialis bedah yang juga pengurus KARS ini memberikan contoh, salah satu perubahan lingkungan rumah sakit adalah berkaitan dengan undang-undang. Contohnya undang-undang yang baru-baru ini saja diterapkan yaitu jaminan kesehatan nasional (JKN) yang mulai diterapkan pada Januari 2014. Dengan penerapan JKN yang salah satunya dibentuknya BPJS kesehatan, pemimpin rumah sakit harus dapat membuat strategi yang cepat dan tepat dalam menhadapi sistem pembayaran yang baru. Jika sebelumnya sistem pembayaran yang diterapkan dalah sistem post payment maka dengan diterapkannya JKN sistem pembayaran berubah menjadi sistem pre payment. Hal tersebut menuntut rumah sakit membentuk manajemen yang solid dan handal serta diharapkan dapat membuat inovasi yang baik agar dapat bertahan dan bersaing dalam rangka memberikan mutu pelayanan terbaik bagi pasien.

Di sisi lain, tantangan dari dalam organisasi rumah sakit yang paling besar adalah faktor sumber daya manusia di rumah sakit. dr. Djony memaparkan bahwa dalam menghadapi mengelola sumber daya manusia, direktur rumah sakit harus membentuk organisasi rumah sakit menjadi organisasi pembelajaran, membangun organisasi yang kuat, dan menghilangkan blaming culture.

Di akhir kuliah dr. Djony Darmadjaja berpesan bahwa, mahasiswa MMR UMY adalah mahasiswa yang beruntung karena dapat menjalani kuliah manajemen rumah sakit pada jenjang usia yang masih muda, sehingga saat benar-benar telah menjalani karir dalam bidang manajemen rumah sakit telah mempunyai bekal yang agar dapat membangun rumah sakit masing-masing dengan baik.