sumber gambar: unufiedcomm.judge.com

sumber gambar: unufiedcomm.judge.com

Dalam pemenuhan standar akreditasi, fasilitas fisik Rumah Sakit (RS) mendapatkan perhatian khusus. Hal ini tercermin dalam 6 program yang terdapat dalam kebijakan akreditasi yang harus diimplementasikan yaitu program keselamatan dan keamanan RS, program kegawatdaruraratan RS, program pengelolaan limbah RS, program pengendalian dan penegahan kebakaran, program pengelolaan peralatan medis, dan program penyediaan listrik dan air bersih RS. Pemenuhan standar fasilitas fisik oleh RS masih sangat sulit dilakukan dibandingkan standar akreditasi lainnya. Hal ini terjadi karena fasilitas fisik terkait denga infrastruktur RS sedangkan standar akreditasi lainnya yang notabennya bersifat program dapat dikembangkan di Rumah Sakit dengan pelatihan secara terus menerus. Kurangnya pemahaman mengenai standar-standar manajemen fasilitas dan keselamatan Rumah Sakit berdampak pada kurang efisiennya kinerja rumah sakit.

Fasilitas rumah sakit yang kompleks dan peratalan kedokteran yang canggih semakin memerlukan perencanaan, pengadaan, pengelolaan, dan perawatan yang baik agar dapat mendukung pelayanan medis.  Kebutuhan tersebut merupakan keniscayaan diperlukannya sumberdaya manusia yang tepat dalam pemenuhan standar-standar pada fasilitas dan peratalan di rumah sakit. Selama ini pengelolaan sarana dan prasarana dilakukan oleh unit kerja “Instalasi Pemeliharaan Sarana RS” (IPSRS) dengan segala variasi nama dan fungsinya. Unit kerja inilah yang pada akhirnya memegang peran sentral dalam perencanaan dan pengelolaan sarana dan prasarana rumah sakit, termasuk maintenance fisik RS dan tentunya juga mempersiapakan rumah sakit dalam pemenuhan standar akreditasi di bidang Manajemen Fasilitas dan Keselamatan di Rumah Sakit.

SAM_contrastadjust

salah satu peran IPSRS kini

Untuk melengkapi regulasi akreditasi yang telah terbentuk di bidang fasilitas fisik maka pemerintah membuat NSPK yaitu Norma, Standar, Pedoman, dan Kriteria di bidang perumahsakitan. NSPK ini memuat persyaratan-persyaratan tentang lokasi, masa bangunan, zoning, alur kegiatan pelayanan, hubungan antar ruang-ruang dalam pencapaian respone time, aksesibilitas, serta persyaratan komponen dan material bangunan serta struktur bangunan. Selain itu NSPK juga mengatur mengenai prasarana bangunan rumah sakit yang mengatur tentang sistem sanitasi, kelistrikan, gas medis dan vakum medis, pengolahan limbah, proteksi kebakaran aktif dan pasif pada bangunan RS, sarana keselamatan jiwa, tata udara, serta sistem komunikasi dan ambulans.

Terbentuknya Himpunan Ahli Teknik Perumahsakitan Indonesia (HATPI) pada tanggal 21 November 2014 di Jakarta merupakan upaya meningkatkan pemenuhan program keselamatan pasien yang memutuhkan peran aktif dari Ahli Teknik Perumahsakitan. Ahli Teknik Perumahsakitan adalah gelar profesi bagi seorang yang telah memilki sertifikat ahli dari himpunan, dan telah terdaftar sebagai Anggota Himpunan Ahli Teknik Perumahsakitan Indonesia (HAPTI). HAPTI adalah organisasi profesi yang berbentuk  perhimpunan para Ahli Teknik Perumahsakitan Indonesia (ATPI) dan terbuka terhadap semua cabang ilmu teknik-perumahsakitan yang mendukung penyelenggaraan pelayanan kesehatan, dengan jaringan organisasi pusat dan daerah.

Aggota HAPTI terdiri dari:

  • Anggota Biasa: warga negara Indonesia yang berpendidikan tinggi dalam bidang yag berkaitan dengan teknik perumahsakitan.
  • Anggota Luar Biasa: mereka yang tidak dapat termasuk atau tidak memenuhi syarat-syarat sebagai anggota biasa, tetapi diterima melalui pengesahan rapat Pengurus Pusat.
  • Anggota Kehormatan: warga negara Indonesia yang karean jasa-jasanya mengembangkan teknologi perumhasakitan.

ATPI adalah anggota atau Mitra Profesi HATPI, terbagi menjadi 5 jenjang keahlian, yaitu:

  1. Profesional Teknik Perumahsakitan Pertama (PTPP) adalah Anggota Biasa atau Anggota Mitra Profesi HATPI yang telah memiliki pengalaman professional paling sedikit 3 (tiga) tahun menjadi Ahli Teknik Perumahakitan dan dinilai mampu melakasanakan pekerjaan profesi keahlian secara mandiri.
  2. Profesional Teknik Perumahsakitan Muda (PTPM1) adalah Anggota Biasa atau Anggota Mitra Profesi HATPI yang telah memiliki pengalaman professional paling sedikit 5 (lima) tahun menjadi Ahli Teknik Perumahakitan dan dinilai mampu melakasanakn pekerjaan profesi keahlian secara mandiri.
  3. Profesional Teknik Perumahsakitan Madya (PTPM2) adalah Anggota Biasa atau Anggota Mitra Profesi HATPI yang telah memilki pengalaman professional lebih dari 5 (lima) tahun menjadi Ahli Teknik Perumahakitan dan dinilai mampu melaksanakan pekerjaan profesi keahlian secara mandiri dan mampu secara mandiri mengkoordinasikan jenis pekerjaan Struktur/Sipil/Arsitekstur.
  4. Profesional Teknik Perumahsakitan Utama (PTPU) adalah Anggota Biasa atau Anggota Mitra Profesi HATPI yang telah memilki pengalaman professional paling sedikit telah 8 (delapan) tahun manjadi IPM-nya:
  • secara berkesinabungan memegang tanggung jawab yang besar dalam perancangan atau pelaksaan proyek-proyek yang penting , dan
  • memilki kualifikasi pendidikan yang tinggi dan telah memberikan sumbangan yang besar pada ilmu pengetahuuan dan teknologi, dan
  • telah mencapai kedudukan yang terpandang di dalam masyarakat keteknikan.

Dengan terbentuknya NSPK dan HATPI diharapkan RS dapat meletakkan tenaga ahli yang tepat dalam pengelolaah Teknik Perumahsakitan dan nantinya dapat lebih memahami standar standar akreditasi mengenai fasilitas fisik dan keamanan RS. (EV)

Sumber:

SEMILOKA Peran Teknik Perumahsakitan dalam Memenuhi Standar Akreditasi Rumah Sakit di Bidang Manajemen Fasilitas dan Keselamatan di Jakarta, 20 Maret 2014

 

Sharing is caring!