Gambar 1.

Resistensi antimikroba merupakan salah satu tantangan terbesar dalam dunia kesehatan. Antimikroba yang paling umum digunakan untuk infeksi yang disebabkan oleh bakteri pathogen gram-negatif adalah seperti fluroquinolon, cephalosporins, kombinasi inhibitor ß-laktam. Extended-spectrum ß-lactamases (ESBLs) adalah enzim ß-laktamase yang dapat menghidrolisis penisilin (e.g., amipicillin, piperacillin), cephalosporins (1st, 2nd dan 3rd generation; e.g., ceftazidime, cefotaxime, dan ceftriaxone) dan cephamycins (e.g., cefmetazole, cefoxitin, dan cefotetan), monobactam (e.g., aztreonam) dan carbapenems (e.g., meropenem, imipenem).  Bakteri Enterobacteriaceae merupakan bakteri yang paling sering resisten terhadap golongan antibiotik ß-laktam ini, seperti Klebsiella spp, dan Escherichia coli penyebab utama HAIs (Healthcare Associated Infections) pada infeksi saluran kemih (Urinary tract infections). Bakteri yang memiliki gen ESBL ini dapat dengan mudah menghidrolisis cincin ß-laktam dengan memproduksi enzim tersebut.

Secara umum, Doi Y et al (2017) menjelaskan 5 faktor utama yang berkontribusi terhadap meningkatnya prevalensi kolonisasi Enterobacteriaceae penghasil ESBL di negara maju, yaitu (Gambar 2):

 

Gambar 2

  1. Food Animals

Penggunaan antibiotik yang tidak terkontrol tidak hanya pada manusia, tetapi juga sering digunakan pada peternakan, terutama sering digunakan untuk infeksi pernafasan dan gastrointestinal (terutama diare). Tidak hanya sebagai pengobatan infeksi, pemberian antibiotik juga sering digunakan untuk pencegahan penularan infeksi, dan beberapa diantaranya memberikan antibiotik dengan tujuan mempercepat pertumbuhan pada peternakan. ESBL-producing Enterobacteriaceae, khususnya Escherichia coli dan non-typhoidal Salmonella sering ditemukan pada hewan ternak.

  1. Companion Animals

Hewan peliharaan seperti kucing dan anjing juga merupakan salah satu vector penyebaran bakteri ESBLs, karena hewan peliharaan yang paling sering kontak dekat dengan pemiliknya.

  1. Humans

Keluarga, atau orang terdekat yang tinggal satu rumah merupakan risiko tinggi untuk tertular infeksi. Ketika ada satu anggota keluarga pasien yang memiliki infeksi bakteri Enterobacteriacea penghasil ESBLs ini, maka berpotensi untuk menularkan infeksi terhadap anggota keluarga lainnya. Hal ini menyebabkan meningkatnya infeksi ESBLs di masyarakat, maupun di rumah sakit.

  1. Environment

Lingkungan yang terkontaminasi oleh bakteri ESBLs ini telah banyak dilaporkan, terutama di negara maju dan berkembang. Air limbah memiliki potensi yang tinggi dalam penyebaran infeksi ESBL ini, terutama limbah rumah sakit yang sebagian besar mengandung E. coli penghasil ESBL ini. Tidak hanya itu, satwa liar terutama burung dapat berkontribusi untuk menyebarkan bakteri ESBLs ini dengan bermigrasi bebas dari satu area ke area lain, antara lahan perkotaan dan pertanian berperan dalam penyebaran bakteri ESBLs terutama di wilayah yang ekologisnya buruk atau tercemar.

  1. International Travel

Persebaran penyakit infeksi melalui international travel sudah banyak dilaporkan, misalnya wisatawan dari negara maju melakukan perjalanan ke negara-negara endemik atau negara dengan sanitasi yang buruk, biaya medis yang rendah, dapat juga memainkan peran dalam impor bakteri yang resisten terhadap beberapa antibiotik termasuk bakteri ESBLs sehingga setelah kembali ke negara asalnya membawa (carriage).

 

 

Reference:

  1. Kawamura K, et al. ESBL-producing Escherichia coli and Its Rapid Rise Among Healthy People. Food Safety Comission, Cabinet Office, Government of Japan, 2017; Vol.5, No.4, 122-150
  2. Doi Y, et al. The Ecology of Extended-spectrum ß-Lactamases (ESBLs) in the Developed World. Journal of Travel Medicine, 2017, Vol.24, Suppl 1, S44-S51.